Laman

Senin, 27 Februari 2012

Rihlah bagian 2 :) with my family and my friends at the Borobudur temple



before going back in front of the house style



group photo at the Borobudur temple page from left to right :) mbk Witik, De' Eva, mbk Triwin & Bule'k Eli 



with photo :) mbk Witik, de' Eva & mbk Tri win



style on Borobudur temple




>> Borobudur temple park <<




with my friends.... ^_^



this is me...:)

i'm proud be a muslim :)

Baru-baru ni sangat suka denger lagu ni...mari dengar wahai muslimah:)
then, i wrote down the lyrics. such a beautiful lyrics. maaf jika ada salah tulis. syukran.


Kamis, 16 Februari 2012

Tips Menjadi Muslimah Yang Paling Bahagia Di Dunia


TIDAK… Bagi perbuatan yang dapat menyia-nyiakan umurmu, seperti senang membalas dendam dan berselisih dengan perkara yang tidak ada kebaikan di dalamnya. 

TIDAK… Bagi sikap yang lebih mengutamakan harta benda dan mengumpulkannya, ketimbang sikap arif untuk menjaga kesehatanmu, kebahagiaanmu, dan waktu istirahatmu. 

TIDAK… Bagi perangai yang suka memata-matai kesalahan orang lain, menggunjing aib orang lain (ghibah) dan melupakan aib diri sendiri. 

TIDAK… Bagi perangai yang suka mabuk kepayang dengan kesenangan hawa nafsu, menuruti segala tuntutan dan keinginannya. 

TIDAK… Bagi sikap yang selalu menghabiskan waktu bersama para pengangguran, dan memboroskan waktu berjam-jam untuk bergurau dan bermain. 

TIDAK… Bagi perilaku acuh terhadap kebersihan dan keharuman tubuh, serta masa bodoh dengan tempat tinggal dan ketertiban lingkungan. 

TIDAK… Bagi setiap minuman yang haram, rokok, dan segala sesuatu yang kotor dan najis. 

TIDAK… Bagi sikap yang selalu mengingat-ingat kembali musibah yang telah lalu, bencana yang telah terjadi, atau kesalahan yang terlanjur dilakukan. 

TIDAK… Bagi perilaku yang melupakan akhirat, yang lalai membekali dirinya dengan amal saleh untuk menyongsongnya, dan yang lengah dari peringatan tentang kedahsyatannya. 

TIDAK… Bagi perangai membuang-buang harta benda dalam perkara-perkara yang haram, berlaku boros dalam perkara-perkara yang mubah, dan perilaku yang dapat memangkas perkara-perkara ketaatan. 

YA… Untuk senyummu yang cantik, yang mengirimkan cinta, dan mengutus kasih sayang bagi orang lain. 

YA… Untuk kata-katamu yang baik, yang membangun persahabatan dan menghapuskan rasa benci. 

YA… Untuk sedekahmu yang dikabulkan, yang membahagiakan orang-orang miskin, menyenangkan orang-orang fakir, dan mengenyangkan orang-orang lapar. 

YA… Untuk kesediaanmu duduk bersama Al-Qur’an seraya membaca, merenungi, dan mengamalkannya, sambil bertaubat dan beristighfar. 

YA… Untuk kesediaanmu berdzikir, beristighfar, tenggelam dalam doa, dan senantiasa memperbaiki taubatmu. 

YA… Untuk usahamu dalam mendidik anak-anakmu dengan agama, sunnah, dan nasihat yang bermanfaat bagi mereka. 

YA… Untuk rasa malumu dan hijab (penutup aurat) yang diperintahkan Allah, karena hanya itulah cara untuk menjaga dan memelihara dirimu. 

YA… Untuk pergaulanmu dengan wanita-wanita yang baik dan takut kepada Allah, mencintai agama dan menghormati nilai-nilainya. 

YA… Untuk baktimu terhadap orangtua, silaturahim pada saudaramu, menghormati tetangga, dan menyantuni anak-anak yatim. 

YA… Untuk membaca sesuatu yang bermanfaat dengan menelaah buku yang menarik dan berfaedah, buku yang menyenangkan dan memberi tuntunan. 

Sumber : Dikutip dari buku “Menjadi Wanita Paling Bahagia di Dunia” – DR. Aidh al-Qarni

Rabu, 15 Februari 2012

Bidadari-Bidadari Surga yang Disegerakan

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Salam bersabda: "Selalu wasiatkan kebaikan kepada para wanita. karena mereka diciptakan dari tulang rusuk dan bagian yang paling bengkok dari jalinan tulang rusuk ialah tulang rusuk bagian atas. Jika kalian paksa diri untuk meluruskannya, ia akan patah. Tetapi jika kalian mendiamkannya, ia akan tetap bengkok. Karena itu, wasiatkanlah kebaikan kepada para wanita. "(HR. Al-Bukhari)
Wanita adalah sebuah maha karya Allah. Dibalik kelembutannya ada kekuatan yang dapat menggerakkan sebuah laju peradaban. Islam dengan segala kemuliaannya telah berhasil meletakkan dengan ideal posisi kaum wanita dalam gempita kehidupan. Dan fakta sejarah pun mengungkapnya dengan elok, bahwa di setiap keberhasilan orang-orang besar selalu ada wanita-wanita kuat di belakangnya. Tapi, tidak semua wanita berkenan menempati posisi-posisi itu. Dengan hadirnya racun-racun demokrasi, omong kosong HAM atau bualan feminisme, wanita telah kehilangan karakter-karakter dasar kemanusiaannya. Fungsi-fungsi wanita telah terdistorsi dari letak fitrahnya.
Namun, di tengah kerusakan pemahaman yang semakin kuat, ada sebagian wanita yang tetap menjunjung tinggi martabat mereka. Memelihara nilai-nilai kefitrahan mereka sebagai seorang hamba. Pengorbanan dan perjuangan telah menjadikan para wanita-wanita ini bak bidadari-bidadari surga yang Allah segerakan kehadirannya. Inilah wanita-wanita yang membuat resah para bidadari-bidadari Surga karena kemuliaannya. Menerbitkan cemburu di ufuk hati para bidadari Surga.
1.   Ibu: Oase Cinta Yang Takkan Kering
“Makan malamlah bersama Ibumu hingga ia senang.
 Hal itu lebih aku senangi daripada haji sunnah yang kamu kerjakan.”
(Al-Hasan bin Amr Rahimahullahu)
Hijrah bukan semata keputusan ideologis-teologis, lebih jauh hijrah adalah sebuah keputusan psikologis, terlebih dalam konteks di saat kita dalam posisi seorang anak. Dan hal inilah yang dirasakan oleh seorang sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash Radhiyallahu ‘Anhu seorang lelaki mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam“Aku berjanji setia kepadamu wahai Rasulullah untuk berhijrah. Tetapi aku meninggalkan orang tuaku dalam keadaan terus menangis.” Ucap lelaki itu. Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab, “Pulanglah kepada keduanya. Buatlah keduanya tertawa, sebagaimana kau telah membuatnya menangis.” (HR. Muslim)
Ibu, adalah representasi bidadari surga yang paling terang. Hatinya adalah oase cinta kehidupan yang menyejukkan, airnya bening dan tak pernah menemui kekeringan. Kasih sayang dan pelukannya adalah hembus angin kedamaian. Jasa-jasanya takkan pernah dapat terbilang, sekalipun dengan formula-formula canggih matematika atau fisika modern.
Imam Bukhari dalam Shahih Al Adabul Mufrad No.9 meriwayatkan dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘Anhuma, bahwa suatu hari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘Anhuma melihat seorang menggendong Ibunya untuk tawaf di Ka’bah dan ke mana saja sang Ibu menginginkan. Kemudian orang tersebut bertanya, “Wahai Abdullah bin Umar, dengan perbuatanku ini apakah aku sudah membalas jasa ibuku?”, “Belum, setetes pun engkau belum dapat membalas kebaikan kedua orang tuamu” Jawab Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘Anhuma.
Pada kisah lain yang diceritakan Abul Faraj Rahimahullahu. Sesungguhnya seorang laki-laki datang kepada Umar lalu berkata, “Sesungguhnya aku mempunyai ibu yang sudah tua renta. Dia tidak menunaikan keperluannya kecuali punggungku yang menjadi tanggungannya. Apakah aku sudah membuatnya ridha dan bisa berpaling darinya? Apakah aku sudah menunaikan kewajiban kepadanya?” Umar Radhiyallahu ‘Anhu menjawab, “Belum”“Bukankah aku telah membawanya dengan punggungku dan aku merelakan hal itu untuknya.” tukas lelaki itu. “Tapi, dia telah melakukannya dan dia berharap agar engkau hidup dan tetap berada di pangkuannya. Sebaliknya, engkau melakukannya dan berharap untuk segera berpisah dengannya,” tegas Umar Radhiyallahu ‘Anhu, sehingga membuat orang itu tak lagi sanggup mengeluarkan kata-kata.
Sebesar apapun pengorbanan yang kita berikan pada Ibu, se-zarah pun tak akan dapat menggantikan pengorbanan yang diberikan ibu kepada kita. Dengan memahami bahwa bakti dan pengorbanan kita tak akan pernah bisa membalas kebaikan ibu, semoga bisa menyadarkan kita untuk selalu memahami dan menyelami keinginannya.
Di dunia ini, tak akan pernah kita temukan cinta kasih seindah cinta kasih seorang Ibu. Tentang hal ini dengan apik Imam Adz Dzahabi rahimahullahu menguraikan, “Ibumu telah mengandungmu di dalam perutnya selama sembilan bulan yang serasa sembilan tahun. Dia bersusah payah ketika melahirkanmu yang hampir saja menghilangkan nyawanya. Dia telah menyusuimu dengan air susunya, dan ia hilangkan rasa kantuknya karena menjagamu. Dia bersihkan kotoranmu dengan tangan kanannya, dia utamakan dirimu atas dirinya serta atas makanannya. Dia jadikan pangkuannya sebagai ayunan bagimu. Dia telah memberikanmu semua kebaikan, dan apabila kamu sakit atau mengeluh tampak darinya kesusahan yang luar biasa dan kesedihan yang panjang. Dia keluarkan harta untuk membayar dokter yang mengobatimu, dan seandainya dipilih antara hidupmu dan kematiannya, maka ia akan meminta supaya kamu hidup dengan suara yang paling keras. Betapa banyak kebaikan ibu, sedangkan engkau balas dengan akhlaq yang tidak baik. Dia selalu mendoakanmu agar mendapat petunjuk, baik di dalam sunyi maupun ditempat terbuka. Tatkala ibumu membutuhkanmu di saat dia sudah tua renta, engkau jadikan dia sebagai barang yang tidak berharga di sisimu. Engkau kenyang dalam keadaan dia lapar. Engkau puas dalam keadaan ia haus. Engkau mendahulukan berbuat baik kepada istri dan anakmu dari pada ibumu. Engkau lupakan semua kebaikan yang pernah dia perbuat. Begitu berat rasanya bagimu memeliharanya, padahal itu urusan yang mudah…”
Ibu, benar-benar bidadari Surga yang Allah turunkan dengan segera. Maka, sampaikanlah kepadanya betapa kita mencintainya, dan berterima kasihlah atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya kepada kita. Semoga Allah mengampuni dosanya, memberkahi usianya, dan mengumpulkan kita kembali dalam surgaNya.
Ibu, Poros Awal Peradaban
“Karir terbaik seorang wanita adalah menjadi ibu rumah tangga” (Mario Teguh)
Anak yang unggul hanya akan lahir dari ibu yang unggul. Maka, sudah semestinya tidak layak lagi ada pandangan bahwa menjadi Ibu rumah tangga adalah sebuah tindakan pengekangan bagi para wanita untuk mengembangkan potensi-potensinya. Adalah para penganut feminisme, menggugat secara serampangan pembagian wilayah tanggung jawab antara kaum pria dan wanita. Para feminis beranggapan wilayah kerja wanita yang lebih cenderung pada ranah private adalah bentuk ketidakadilan terhadap kaum wanita. Lebih jauh mereka beranggapan melalui keikutsertaan wanita pada ranah publik dapat meningkatkan kualitas dan kapasitas kaum wanita. Benarkah demikian?
Saya selalu ingat apa yang dikatakan ibu saya, “Perempuan bagiannya di rumah, sedang laki-laki di luar rumah.” Sepintas terdengar sangat diskriminatif. Tapi, makin lama saya makin paham bahwa inilah yang dimaksud Job Descpription. Layaknya sebuah organisasi, keluarga pun mutlak memiliki job description. Dan hal yang harus kita pahami adalah tidak ada yang menjamin seorang yang memiliki wilayah kerja di sektor publik akan memiliki kemuliaan dan kualitas lebih baik dari seorang ibu yang memiliki wilayah tanggungjawab pada sektor privat. Karena semua kemuliaan mutlak hanya akan dipetik dari ketaqwaan dan ketaatan pada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semoga kita dapat renungkan apa yang difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam QS. An-Nisaa’ ayat 32, “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
Ibu, sebagai seorang ‘manajer’ rumah tangga adalah sebuah entitas terpenting dalam konteks pembentukan sebuah generasi. Tanpa seorang ibu yang berkualitas takkan lahir para manusia-manusia berkualitas. Ibulah, madrasah peradaban yang paling awal. Dari para ibulah cetak biru sebuah poros peradaban ditentukan. Kesungguhan para ibu men-tarbiyah keturunannya adalah langkah nyata rekonsiliasi sebuah bangsa. Dan kerja-kerja macam ini, bahkan para bidadari surga pun belum tentu mampu melakukannya. Dengan kesungguhan inilah, bahkan para bidadari pun akan mencemburuinya.
2.   Wanita Shalihah: Pesona Di atas Pesona
Ia mutiara terindah dunia
Bunga terharum sepanjang masa
Ada cahaya di wajahnyaBetapa indah pesonanya
Bidadari bermata jeli pun cemburu padanya
Kelak, ia menjadi bidadari surgaTerindah dari yang ada

(Triwin)
Ya, bidadari surga yang Allah segerakan berikutnya adalah wanita shalihah. Konteks tulisan ini sama sekali bukan tentang fisik. Kita hanya akan membahas hal-hal substansial yang bernama kesalehan. Untuk itu, cukuplah dialog penuh ‘ibrah antara Ummu Salamah Radhiyallahu ‘Anha dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang didokumentasikan oleh Imam Ath-Thabrani sebagai pecut penyemangat, pengobar ruh kesalehan.
Ummu Salamah Radhiyallahu ‘Anha berkata, “Wahai Rasulullah, Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam jelaskanlah kepadaku firman Subhanahu wa Ta’ala tentang bidadari-bidadari yang bermata jelita.” (QS. Ad-Dukhan: 54) Beliau menjawab, “Bidadari yang kulitnya putih, matanya jeli dan lebar, rambutnya berkilau seperti sayap burung nasar.”
Aku berkata lagi, “Jelaskan kepadaku tentang firman Allah, “Laksana mutiara yang tersimpan baik.” (Al-Waqi’ah: 23) Beliau menjawab, “Kebeningannya seperti kebeningan mutiara di kedalaman lautan, tidak pernah tersentuh tangan manusia.”
Aku berkata lagi, “Wahai Rasulullah, jelaskan kepadaku firman Allah, “Di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik.” (Ar-Rahman: 70) Beliau menjawab, “Akhlaqnya baik dan wajahnya cantik jelita.”
Aku berkata lagi, “Jelaskan kepadaku firman Allah, “Seakan-akan mereka adalah telur (burung onta) yang tersimpan dengan baik.” (Ash-Shaffat: 49) Beliau menjawab, “Kelembutannya seperti kelembutan kulit yang ada di bagian dalam telur dan terlindung kulit telur bagian luar, atau yang biasa disebut putih telur.”
Aku berkata lagi, “Wahai Rasulullah, jelaskan kepadaku firman Allah, Penuh cinta lagi sebaya umurnya” (Al-Waqi’ah: 37) Beliau menjawab, “Mereka adalah wanita-wanita yang meninggal di dunia pada usia lanjut, dalam keadaan rabun dan beruban. Itulah yang dijadikan Allah tatkala mereka sudah tahu, lalu Dia menjadikan mereka sebagai wanita-wanita gadis, penuh cinta, bergairah, mengasihi dan umurnya sebaya.”
Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, manakah yang lebih utama, wanita dunia ataukah bidadari yang bermata jeli” Beliau menjawab, “Wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari-bidadari yang bermata jeli, seperti kelebihan apa yang tampak daripada apa yang tidak tampak.”
Aku bertanya, “Karena apa wanita dunia lebih utama daripada mereka?” Beliau menjawab, “Karena shalat mereka, puasa dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka, tubuh mereka adalah kain sutera, kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuning-kuningan, sanggulnya mutiara dan sisirnya terbuat dari emas. Mereka berkata, “Kami hidup abadi dan tidak mati, kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali, kami selalu mendampingi dan tidak beranjak sama sekali, kami ridha dan tidak pernah bersungut-sungut sama sekali. Berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya.”
Aku berkata, “Wahai Rasulullah, salah seorang wanita di antara kami pernah menikah dengan dua, tiga, atau empat laki-laki lalu meninggal dunia. Dia masuk surga dan mereka pun masuk surga pula. Siapakah di antara laki-laki itu yang akan menjadi suaminya di surga? Beliau menjawab, “Wahai Ummu Salamah, wanita itu disuruh memilih, lalu dia pun memilih siapa di antara mereka yang akhlaqnya paling bagus, lalu dia berkata, “Wahai Rabb-ku, sesungguhnya lelaki inilah yang paling baik akhlaqnya tatkala hidup bersamaku di dunia. Maka nikahkanlah aku dengannya”. Wahai Ummu Salamah, akhlaq yang baik itu akan pergi membawa dua kebaikan, dunia dan akhirat.”
Keshalihan dan akhlaq baiklah sumber kemuliaan, semoga kita dapat meraihnya. Amiin.


Rabu, 23 November 2011

Halaqah - Liqa

Halaqah adalah sebuah istilah yang ada hubungannya dengan  dunia pendidikan, khususnya pendidikan atau pengajaran Islam (tarbiyah Islamiyah) istilah halaqah (lingkaran) biasanya digunakan untuk menggambarkan sekelompok kecil muslim yang secara rutin mengkaji ajaran Islam. Jumlah peserta dalam kelompok kecil tersebut berkisar antara 3-12 orang. Mereka mengkaji Islam dengan minhaj (kurikulum) tertentu. Di beberapa kalangan, halaqah disebut juga dengan mentoring, ta'lim, pengajian kelompok, tarbiyah atau sebutan lainnya.

Halaqah adalah sekumpulan orang yang ingin mempelajari dan mengamalkan Islam secara serius. Biasanya mereka terbentuk karena kesadaran mereka sendiri untuk mempelajari dan mengamalkan Islam secara bersama-sama (amal jama'i) Kesadaran itu muncul setelah mereka bersentuhan dan menerima dakwah dari orang-orang yang telah mengikuti halaqah terlebih dahulu, baik melalui forum-forum umum seperti tabligh, seminar, pelatihan atau dauroh, maupun karena dakwah interpersonal (dakwah fardiyah).

Biasanya peserta halaqah dipimpin dan dibimbing oleh seorang murobbi (pembina). Murobbi disebut juga mentor, pembina, ustadz (guru), mas'ul (penanggung jawab). Murobbi bekerjasama dengan peserta halaqah untuk mencapai tujuan halaqah, yaitu terbentuknya muslim yang Islami dan berkarakter da'i (takwinul syakhsiyah islamiyah wa da'iyah). Dalam mencapai tujuan tersebut, murobbi berusaha agar Lokasi: peserta hadir secara rutin dalam pertemuan halaqah tanpa merasa jemu dan bosan. Kehadiran peserta secara rutin penting artinya dalam menjaga kekompakan halaqah agar tetap produktif untuk mencapai tujuan.

Halaqah sekarang ini - dan insya Allah di masa datang - menjadi alternatif sistem pendidikan Islam yang cukup efektif untuk membentuk muslim berkepribadian Islami (syakhsiyah Islamiyah). Hal ini dapat terlihat dari hasil pembinaannya yang berhasil membentuk sekian banyak muslim yang serius mengenalkan Islam. Jumlah mereka makin lama makin banyak seiring semakin bertambahnya jumlah halaqah yang terbentuk di berbagai kalangan.

Kini, fenomena halaqah menjadi umum dijumpai di lingkungan kaum muslim di mana pun mereka berada. Walau mungkin dengan nama yang berbeda-beda. Penyebaran halaqah yang pesat tak bisa dilepaskan dari keberhasilannya dalam mendidik pesertanya menjadi mukmin yang bertakwa kepada Allah SWT, saat ini halaqah menjadi sebuah alternatif pendidikan keislaman yang masif dan merakyat. Tanpa melihat latar belakang pendidikan, ekonomi, sosial atau budaya pesertanya. Bahkan tanpa melihat apakah seseorang yang ingin mengikuti halaqah tersebut memiliki latar belakang pendidikan agama Islam atau tidak. Halaqah telah menjadi sebuah wadah pendidikan Islam (tarbiyah Islamiyah) yang semakin inklusif saat ini.

Keberadaan halaqah sangat penting untuk keberadaan umat Islam itu sendiri. Dengan terbentuknya kader-kader Islami melalui sistem pendidikan halaqah, maka didalam tubuh umat akan lahir orang-orang yang senantiasa berdakwah kepada kebenaran. Jika jumlah mereka semakin banyak seiring dengan merebaknya sistem halaqah, maka umat Islam akan menjadi sebenar-benarnya umat'. Bukan lagi sekedar bernama 'umat Islam' tapi esensinya jauh dari nilai-nilai Islam seperti yang kita saksikan saat ini.

Dengan merebaknya sistem pendidikan halaqah proses pembentukan umat yang Islami (takwinul ummah) akan mengalami akselerasi, sehingga - Isnya Allah - umat yang benar-benar Islami akan menjadi kenyataan dalam waktu yang lebih cepat. Hal ini akan berdampak pada kehidupan manusia secara menyeluruh yang lebih berpihak pada nilai-nilai kebenaran dan keadilan. Merebaknya halaqah juga bermanfaat bagi pengembangan pribadi (self development) para pesertanya. 

Halaqah yang berlangsung secara rutin dengan peserta yang tetap biasanya berlangsung dengan semangat kebersamaan (ukhuwah Islamiyah). Dengan nuansa semacam itu, peserta belajar bukan hanya tentang nilai-nilai Islam, tapi juga belajar untuk bekerjasama, saling memimpin dan dipimpin, belajar disiplin terhadap aturan yang mereka buat bersama, belajar berdiskusi, menyampaikan ide, belajar mengambil keputusan dan juga belajar berkomunikasi. Semua itu sangat penting bagi kematangan pribadi seseorang untuk mencapai tujuan hidupnya. yakni sukses di dunia dan akhirat.

Umat Islam akan mengalami kerugian yang besar jika sistem halaqah tidak berkembang dan penuh. Hal ini karena halaqah merupakan sarana efektif untuk melahirkan kader-kader Islam yang tangguh dan siap berkorban memperjuangkan Islam. Bahkan, mungkin dapat disebut, jika sistem halaqah tumpul dan mandul, maka umat akan mengalami situasi lost generation (kehilangan generasi pelanjut) yang berkarakter Islami.

Pentingnya mempertahankan sistem halaqah dalam mencetak kader-kader Islam yang tangguh sudah teruji dalam perjalanan panjang kehadiran halaqah di berbagai negara. Apalagi sampai saat ini para mufakir (pemikir) da'wah juga belum dapat menemukan sistem alternatif lain yang sama efektifnya dalam mencetak kader Islam yang tangguh seperti yang telah dihasilkan oleh halaqah. Bahkan yang terjadi sebaliknya, kini semakin banyak para da'i dan ulama yang mendukung tarbiyah melalui sistem halaqah. 

Sebagian dari mereka bahkan menulis buku yang menganalisa kehandalan sistem halaqah/usroh dalam mencetak kader-kader Islam. Termasuk menganalisanya dari sisi syar'i, sejarah dan sunah Rasul, Salah seorang pemikir da'wah, Dr. Ali Abdul Halim Mahmud, mengemukakan pendapatnya tentang sistem halaqah yang tak tergantikan: "Tarbiyah melalui sistem halaqoh merupakan tarbiyah yang sesungguhnya dan tak tergantikan, karena dalam sistem halaqoh inilah didapatkan kearifan, kejelian dan langsung di bawah asuhan seorang murobbi yang ia adalah pemimpin halaqoh itu sendiri. Sedang program-programnya bersumber dari Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya yang diatur dengan jadwal yang sudah dikaji sebelumnya".

Dinamis dan produktif

Seperti diketahui, saat ini kita dapat menjumpai fenomena maraknya halaqah di mana-mana. Baik itu di kampus, sekolah, kantor, pabrik, masjid, maupun di rumah-rumah penduduk. Ini bukan hanya fenomena maraknya halaqah (di beberapa kalangan disebut juga dengan usroh, mentoring, ta'lim, tarbiyah, pengajian kelompok dan lain-lain), merupakan fenomena yang wajar. seiring dengan makin banyaknya orang yang kembali kepada Islam. Halaqah diyakini oleh mereka yang mengikutinya sebagai sarana yang efektif untuk mempelajari dan mengamalkan Islam secara rutin dan konsisten. 

Dahulu, halaqah lebih banyak berjalan secara diam-diam, bahkan rahasia. Namun saat ini, bersamaan dengan datangnya era reformasi, halaqoh menjadi sesuatu yang inklusif dan terbuka. Semua orang Islam bisa mempelajari dan mengikutinya, tanpa ada amniyah (rahasia informasi) yang banyak seperti dulu lagi. Walau begitu, ciri khas halaqah tetap dipertahankan, yaitu peserta yang dikelompokkan menurut tingkat pemahamannya terhadap Islam, jumlah peserta yang dibatasi. tetap, dan tidak berganti-ganti. Dipimpin oleh seorang murobbi, berlangsung rutin, dan dengan materi terpadu.

Pentingnya halaqah meningkatkan produktivitasnya dan berjalan secara dinamis serta menggairahkan tak perlu dipertanyakan lagi. Sebab secara fitrah, manusia memang tidak suka 'berjalan di tempat' dan berada dalam suasana menjemukan. Mereka tak akan betah berlama-lama dalam suasana seperti itu. Padahal di halaqah kita dituntut untuk betah berlama-lama. Hal ini terkait dengan tujuan halaqah sebagai sarana pembelajaran Islam seumur hidup dalam rangka membentuk muslim paripurna. Disinilah letaknya urgensi mengapa halaqah perlu senantiasa meningkatkan produktivitasnya dan meningkatkan suasana yang menggairahkan.


by : tri.win03@yahoo.com




Menjadi Pejuang Cinta, Perindu Surga

Akhirat... 
Seperti sahabat sehati. 
Ia akan terus melambai, bila kita masih jujur padanya. 
Ia akan merindukan kita, bila kita juga merindukannya. 
Ia akan menyiapkan sambutan untuk kita, bila kita masih setia berjalan menuju padanya.

Setia sebagai seorang mukmin pencari cinta sejati.
Cinta yang menghidupkan dan memastikan harapan.

Dunia...
Hanyalah kawan sementara.
Kawan yang menangkar mawar tapi juga durinya,
madu tapi juga racunnya,
manis tapi juga pahitnya.


Memang masih segar dalam memori kita keindahan ramadhan yang belum lama kita lalui. Ketika semua umat Islam di dunia larut dalam keindahannya. Ketika kita menjadi jiwa kita begitu ringan melakukan kebaikan, berlomba-lomba, saling mengingatkan.  Menghiasi waktu dengan tilawah Al Quran, Sholat berjama'ah, Tarawih berjama'ah, Sholat Dhuha, Qiyamul Lail. Begitu semangatnya kita berburu majlis ilmu (lengkap kebahagiaannya dengan ifthor (berbuka) gratis juga tentunya). Begitu ringannya kita berbagi dengan sesama.  Semua larut dalam keindahan dan kerinduan pada Akhirat. Semua menjadi pejuang cinta yang berlomba mencari cinta illah. 

Duhai, bagaimana kabar kita hari ini?

Baru hitungan hari Ramadhan pergi meninggalkan kita. Termasuk yang manakah kita? Apakah diri kita termasuk yang beranggapan setelah ramadhan selesai maka semua otomatis menjadi suci (fitrah) sehingga membiarkan diri lalai, kedekatan dengan Allah yang sudah dibangun tanpa terasa memudar dengan menurunnya ibadah ibadah kita dan akhirnya kita sama dengan sebelum ramadhan. seperti seorang wanita yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali.

Ataukah kita termasuk yang istiqomah, merawat kedekatan yang sudah terjalin dengan menjaga semangat dalam ibadah dan kebaikan. Menjadikan bulan bulan setelah ramadhan sebagai ajang pembuktian cinta. Pembuktian bahwa kita bukan hamba Ramadhan yang hanya rajin beribadah ketika ramadhan tetapi kita merupakan Hamba Rabbani yang senantiasa mengingat Allah hingga mati.
Mari kita bertanya sejujurnya.

Semoga kita termasuk diantara yang istiqomah, pejuang cinta sejati yang merindu surga dan setia berjalan menuju padanya.

"Ya Rabb, yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami dalam ketaatan padaMu. Terimalah amal-amal kami, mudahkan kami untuk memperbaiki diri dan memperbanyak ibadah kepadaMu". Aamin......

@Triwin.Istiqomah_DiJlnDakwah !!! SEMaNGAttt.......
Sebuah catatan di penghujung bulan Syawal.

Jumat, 20 Mei 2011

Komitmen Muslim Sejati...




Saya Harus Mengislamkan Aqidah Saya
Syarat pertama dalam berkomitmen dan menisbahkan diri kepada Islam adalah : Aqidah seorang muslim harus lurus, jelas, dan benar, sesuai tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah saw. Seorang muslim tanpa aqidah yang benar tentunya tidak akan mampu membina dan merasakan komitmen terhadap Islam, karena aqidah yang tidak bersih akan tercemari oleh hal-hal yang melemahkan iman, iman yang lemah akan mempengaruhi segala aktivitas seorang muslim dalam hidupnya. Oleh karena itu, agar saya dapat mengislamkan aqidah saya, maka wajib bagi saya untuk :
  1. Mengimani bahwa penciptaan alam semesta ini adalah Ilah yang Maha Bijaksana, Maha kuasa, Maha mengetahui, dan Maha Bediri Sendiri. (Q.S. Al-Anbiya' :22)
  2. Mengimani bahwa Al-Kholiq menciptakan alam semesta ini tidaklah sia-sia, karena Allah adalah Dzat yang Maha sempurna. (Q.S. Al-Mu’minun : 115-116)
  3. Mengimani bahwa Allah swt telah mengutus para Rasul dan menurunkan kitab-kitab untuk memperkenalkan Dzat-Nya kepada manusia, tujuan penciptaan, asal dan tempat kembali manusia. (Q.S. An-Nahl : 36)
  4. Mengimani bahwa tujuan diciptakannya manusia adalah untuk mengenal dan mengabdi pada Allah swt. (Q.S. Adz-Dzariyat : 56-58)
  5. Mengimani bahwa balasan bagi mu’min yang taat adalah jannah dan orang kafir adalah neraka. (Q.S. Asy-Syura : 7)
  6. Mengimani bahwa manusia melakukan kebaikan maupun keburukan atas pilihan dan kehendaknya sendiri. Tapi untuk kebaikan juga dipengaruhi oleh Taufiq dari Allah dan keburukan tidak ada paksaan dari Allah. (Q.S. Asy-Syams : 7-10, Al-Mudatsir : 38)
  7. Mengimani bahwa pembuat hukum hanyalah hak Allah yang tidak boleh dilangkahi, dan seorang muslim boleh berijtihad yang disyari’atkan oleh Allah. (Q.S. Asy-Syura : 10)
  8. Mengetahui nama-nama dan sifat-sifat Allah.
    Dari Abu Hurairah ra : telah bersabda Rasulullah saw : “Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, tidak seorangpun menghafalnya melainkan ia pasti masuk surga. Dan Dia (Allah) itu witir dan mencintai yang witir.”(Bukhari dan Muslim)
  9. Merenungkan ciptaan Allah dan bukan Dzatnya.
    “Berfikirlah tentang ciptaan Allah dan janganlah kalian berfikir tentang DzatNya, karena kalian tidak akan mampu menjangkauNya.”(Abu Nu’am dalam Al-Hilyah, dan Al-Asbahany dalam At-Targhib wa Tarhib)
  10. Meyakini bahwa pendapat salaf lebih utama diikuti untuk menutup peluang ta’wil dan ta’thil (tidak memberlakukan makna dari sebuah lafadz) serta menyerahkan makna hakiki dari nama dan sifat Allah itu hanya kepada-Nya. Ta’wil itu tidak boleh mengundang perdebatab yang berkepanjangan.
  11.  Mengabdi kepada Allah dengan tidak menyekutukanNya. (Q.S. An-Nahl : 36)
  12. Merasa takut olehNya dan tidak merasa takut oleh selainNya. (Q.S. An-Nur : 52)
  13. Berdzikir kepadaNya secara kontiniu. Dzikir pada Allah merupakan obat spiritual yang ampuh dalam menghadapi tantangan zaman dan segala bencana yang menimpa kehidupan. (Q.S. Ar-Ra’d : 28, Az-Zukhruf : 36-37)
  14. Mencintai Allah sampai hati saya dikuasai olehNya dan terkait erat denganNya sehinggan mendorong saya untuk lebih baik dan rela berkorban di jalanNya. (Q.S. At-Taubah : 24)
  15. Bertawakkal kepada Allah dalam segala urusan saya. (Q.S. At-Thalaq : 3)
  16. Bersyukur kepada Allah atas nikmatNya yang tak terhitung. (Q.S. An-Nahl : 78, Yasin : 33-35, Ibrahim : 7)
  17. Beristighfar kepadaNya secara kontiniu (dawam), karena dapat memperbaharui taubat, iman, dan menghapus dosa. (Q.S. An-Nisa’ :110, Ali-Imran : 135)
  18. Menyadari bahwa diri saya selalu diawasi olehNya kapan saja dan di mana saja berada. (Q.S. Al-Mujadilah : 7)
Dari 18 hal yang wajib kita lakukan, yang paling utama adalah bagaimana semua hal tersebutmampu memperkuat komitmen kita terhadap Allah, Islam, dan hal-hal yang berkaitan dengannya sehingga akan membentuk karakter muslim yang berkomitmen tinggi sehingga apa saja yang menyangkut kebenaran dan kebaikan dapat dilaksanakan dan dipertanggungjawabkan sebaik-baiknya di dunia dan akhirat. Dan menjauhi segala perbuatan yang dapat menjerumuskan kita kepada hal-hal yang dapat membatalkan syahadatain kita seperti syirik, mendatangi dukun, atau percaya pada hal-hal tidak syar’i
Tujuan utama kita adalah Allah, maka mari kita luruskan niat dan perbaiki amal dan aktivitas kita hanya untuk Allah.
Saya Harus Mengislamkan Ibadah Saya
Di dalam islam ibadah merupakan puncak ketundukan dan pengakuan atas keagungan Allah. Ibadah merupakan tangga penghubung antara Al-Khaliq dengan makhlukNya. Ibadah yang kita lakukan haruslah dihadirkan hanya untuk Allah karena kita adalah hamba yang harus selalu menghambakan diri kepada Allah. Agar saya dapat mengislamkan ibadah saya maka saya harus 
  1. Menjadikan ibadah saya hidup dan bersambung dengan Allah.
  2. Menjadikan ibadah saya khusyu’
  3.  Beribadah dengan hati yang penuh kesadaran dan menjauhkan pikiran tentang kesibukan dunia dan problematika yang ada di sekitarnya
  4.  Tidak pernah merasa puas dan kenyang dalam beribadah
  5. Memelihara qiyamullail dan melatih diri agar terbiasa melakukannya (Q.S. Al-Muzzammil : 6, Adz-Dzariyat 17-18, As-Sajadah : 16)
  6. Mempunyai waktu khusus untuk mengkaji dan merenungkan Al-Qur’an terutama di waktu subuh (Al-Isra’ : 78, Al-Hasyr : 21)
  7. Menjadikan do’a sebagai mi’roj kepada Allah dalam setiap urusan
Saya Harus Mengislamkan Akhlak Saya
Akhlak mulia adalah tujuan asasi dari risalah islamiyyah. Akhlak mulia harus dibuktikan dengan perbuatan dan merupakan buah dari iman. Akhlak yang mulia terlahir dari ibadah. Di antara sifat-sifat penting yang harus dimiliki seseorang agar dapat mengislamkan akhlaknya adalah :
  1. Bersikap wara' dari segala hal yang syubhat
  2. Menundukkan pandangan (Q.S. An-Nur : 30)
  3. Menjaga lidah
  4. Rasa malu
  5. Lemah lembut dan sabar (Q.S Asy-Syura : 43, Al-Hijr : 85, As-Shad : 10, An-Nur 22, Al-Furqon : 63)
  6. Jujur
  7. Tawadhu’
  8. Menjauhi prasangka, ghibah, dan mencari-cari aib orang Islam
  9. Murah hati dan dermawan
  10. Qudwah hasanah
Saya Harus Mengislamkan Rumah Tangga Dan Keluarga Saya
Tidak cukup menjadi muslim sendirian, tanpa perduli terhadap orang sekitar. Karena di antara ajaran Islam, yang ingin ditanamkan pada jiwa manusia adalah sikap perduli, berda’wah, menasihati dan ghiroh terhadap orang lain. Untuk membentuk rumah tangga yang islami maka hal yang perlu dilakukan antara lain :
  1. Pernikahan yang saya lakukan harus karena Allah (Q.S. Ali-Imron : 34)
  2. Hendaknya tujuan pernikahan adalah untuk menjaga pandangan, memelihara kemaluan, dan bertakwa kepada Allah
  3. Saya harus pandai-pandai memilih pasangan
  4. Saya harus memilih pasangan yang memiliki akhlak dan din yang baik
  5. Saya tidak boleh menyalahi perintah Allah  dalam masalah ini dan saya harus takut pada murka Allah
Setelah menikah, yang harus saya lakukan adalah :
  1. Saya harus bersikap baik dan hormat kepadanya dalam pergaulan agar tercipta suasana saling percaya
  2. Jangan hendaknya hubungan saya dengannya hanya sebatas hubungan biologis, tapi juga hubungan fikroh, mentalitas serta emosi (Thaha : 132, Maryam : 55)
Tanggung jawab mendidik anak juga harus kita islamkan agar anak memiliki mentalitas dan fikriyah yang kuat sehingga akan membentuk suatu keluarga yang islami.
Saya Harus Mengalahkan Hawa Nafsu
Manusia senantiasa bertarung dengan hawa nafsunya, sampai ia mengalahkannya atau hawa nafsu yang mengalahkannya, atau terus berlangsung sampai maut menjemput.
Tonggak-tonggak kemenangan dalam melawan hawa nafsu :
  1. Hati, selama ia hidup, sadar, bersih, tegar, dan bersinar (Q.S. Al-Anfal : 2, Al-Haj : 47, Muhammad : 24)
  2. Akal, selama ia dapat memandang, memahami, membedakan, dan menyerap ilmu yang dengannya dapat mendekatkan diri dengan Allah  (Q.S. Fathir : 28).
Manakala hati manusia mati atau membatu, manakala akalnya padam, semakin banyaklah pintu syetan masuk ke dalam dirinya. (Q.S. Al-Mujadilah : 19), yaitu penyakit was-was yang dapat menghalang-halangi kita di jalan Allah.
Hal-hal yang dapat membentengi diri dari syetan :
  1. Menjauhi kekenyangan dan makan yang kelewat batas
  2. Membaca Al-Qur’an, dzikrullah, dan istighfar
  3. Membuang jauh sifat terburu nafsu dan bersikap tenang terhadap keadaan apapun
Saya Harus Yakin Bahwa Hari Esok Milik Islam
Saya harus yakin bahwa hari esok adalah milik islam dan islam harus menjadi satu-satunya manhaj yang dapat memimpin dan membimbing manusia ke jalan yang benar. Kita juga harus yakin bahwa produk manusia memiliki kekurangan, dan hanya islam yang mampu mengatur seluruh aspek kehidupan sehingga islam harus menjadi agama yang rahmatan lil ‘alamin. Islam merupakan manhaj yang tunggal, integral, mondial, fleksibel, dan robbaniyah sehingga islam akan mampu mengatur kehidupan umat manusia. Keyakinan saya didorong oleh beberapa hal :
1.     Rabbaniyah Manhaj Islam
Manhaj Islam yang bercorak ketuhanan adalah suatu sibghah (konsep agama) yang menjadikannya terdepan dibandingkan dengan seluruh sistem positif produk manusia dan memiliki spesifikasi unik untuk tetap bertahan dan memberikan manfaat di setiap zaman, tempat, dan di kawasan mana pun.
2.     Universalitas manhaj Islam
Merupakan perwujudan warna humanisme, konkretisasi dari warna keterbukaan dan kemampuan untuk memikul tanggungjawab keterbukaan ini. Warna ini menjadikannya meninggalkan sentimen sempit terhadap ras, nasionalisme, gender, atau keturunan.
3.     Elastisitas Manhaj Islam
Yaitu warna yang memberinya kemampuan untuk menampung segala problema kehidupan yang berubah-ubah, bervariasi, dan bermacam-macam. Warna yang melapangkan tempat untuk berijtihad dalam menyimpulkan hukum-hukum berkenaan dengan masalah-masalah yang tidak ada nashnya, melalui metode qiyas atau mempertimbangkan mashlahah mursalah, istihsan, dan argumen lain yang diakui syara’
4.     Kelengkapan manhaj Islam
Yaitu warna yang membedakannya dari sistem “bumi” serta tatanan-tatanan buatan lainnya yang memiliki tujuan terbatas. Manhaj Islam adalah sistem yang diberikan oleh Al-’Alim dan Al=Khabir, yaitu Allah Yang Mahatahu segala urusan manusia, apa saja yang dibutuhkan manusia, apa saja yang merupakan maslahat manusia, dan sebagainya.
5.     Keterbatasan Sistem-sistem “wadh’iyah” (buatan manusia)
Sistem buatan manusia memiliki banyak keterbatasan dalam tataran aplikatifnya.



by : tri.win03@yahoo.com
  

Lebih Cantik Dari Bidadari Surga

Berfikir tentang masa depan. Hmm...setiap kita punya fitrah untuk berfikir tentang masa depan. Selama mendapat amanah mengukirkan harapan-harapan mahasiswa yang sdh lulus dalam sebuah lembaran buku saya menangkap sebuah keinginan yang sama. Sebuah harap untuk meraih sukses di dunia dan di akhirat.
Masa depan yang saya maksud disini merupakan masa depan yang sejatinya sangat dekat namun banyak orang menganggapnya masih jauh. Mengangankan indah pada akhirnya akan tetapi membiarkan diri terlena oleh sesuatu yang fana, kecintaan pada dunia.
Maka tak jarang kita menemukan pemuda pemudi yang pengennya bebas terbang kesana kemari, bermain dan bersenang senang saja seakan waktu akan mengizinkannya untuk tetap menjadi anak kecil seterusnya seiring berharap nanti saja klo sudah tua baru memikirkan pertanggungjawaban. Sayangnya tidak, waktu terus berlalu seiring berlalunya kehidupan. Dekatnya kita dengan masa depan (akhirat) hanya terpisah oleh sebuah garis tipis bernama maut.

Dan biarkanlah sayap sayap kerinduan itu membentang...

Kita semua merindukan sebuah kenikmatan, rindu untuk merasakan sesuatu yang indah, menyimpan obsesi untuk bisa mengalami sesuatu yang menyenangkan. Tidak laki-laki tidak perempuan, keduanya merindukan hal yang sama.
Jikalau kita punya keinginan kuat untuk akhir yang indah, yakin akan adanya kenikmatan dan keindahan surga maka kerinduan yang kuat, keinginan serta obsesi itu hendaknya diiringi dengan amal shalih. Bukan sekedar keinginan berbalut rindu seakan burung yang ingin terbang tapi tak mau menggerakkan kedua sayapnya.
Bersyukurlah bila kita masih memiliki kerinduan itu. Daripada orang yang tidak punya, bahkan merasa PD bahwa dia bakal masuk neraka makanya mumpung masih di dunia, di puas puasin dulu deh. Naudzubillah. 
Imam Ibnul Qayyim mengatakan bahwa, " Jika hati kosong dari memperhatikan surga dan neraka, sunyi dari harapan untuk masuk surga dan menghindari neraka, tekad akan melemah, semangat akan turun, dorongan jiwa juga akan semakin luruh. Semakin tinggi harapan untuk menggapai surga, semakin tinggi upaya untuk mencapai surga. Semakin kuat pula dorongan untuk taat, semakin besar semangat dan usaha semakin keras.

Maka yakinlah, akhirat itulah masa depan yang sebenarnya.

Berfikir mengenainya, dahulu para sahabat Rasulullah saw pun bertanya-tanya tentang surga. Diantara mereka ada yang menanyakan, "Ya Rasulullah, apa yang menjadi bangunan surga?" Seperti apa luasnya Surga?  Apakah kami akan bertemu dengan isteri kami di surga? Kaum perempuan pun ingin memiliki gambaran yang jelas tentang penggalan hidupnya di akhirat.
Dalam hadits yang diriwayatkan Thabrani, Ummu Salamah ra. bertanya kepada Rasulullah saw, "Ya Rasulullah, beritakanlah kepada kami mana yang lebih utama di surga, wanita dunia atau bidadari surga?"
Rasulullah lalu menerangkan bahwa wanita dunia di surga sangat lebih utama dari bidadari surga karena shalat, puasa, dan ibadah yang dilakukan mereka. "Allah swt memberi cahaya di wajah mereka, mereka mengenakan sutra di tubuhnya, warna kulit mereka putih, pakaian mereka hijau, perhiasan mereka kuning, pedupaan mereka mutiara dan sisir mereka adalah emas. Mereka mengatakan, "Kami adalah perempuan-perempuan abadi yang takkan mati. Kami adalah perempuan-perempuan bahagia yang takkan pernah miskin. Kami adalah perempuan-perempuan penduduk tetap yang takkan pindah selamanya. Ketahuilah kami adalah perempuan-perempuan yang ridha dan takkan marah selamanya. Berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami menjadi pemiliknya"

Ummu salamah ra bertanya kembali, "Ya Rasulullah, ada diantara kami menikah dua atau tiga kali. Jika ia meninggal dunia dan suami-suaminya masuk surga, siapakah yang menjadi suaminya di surga?" Rasul saw menjawab, "Wahai Ummu Salamah, ia diberi kebebasan untuk memilih mana diatara suaminya yang paling baik akhlaknya." Lalu Ummu salamah berkata, "Ya Rabb, jika suamiku yang ini adalah suami yang paling tampan di dunia, nikahkanlah aku dengannya." Rasulullah saw menerangkan, "Wahai Ummu salamah, ketampanan wajah musnah dengan kebaikan dunia dan akhirat." (HR Tabrani)
Suatu ketika, Aisyah ra isteri Rasulullah saw juga mengatakan dengan bangga, "Perempuan-perempuan shalihah di dunia akan berkata pada bidadari surga, "Kami melakukan shalat sedangkan kalian tidak melakukan shalat. Kami berpuasa sedangkan kalian tidak melakukannya. Kami bershadaqah sedangkan kalian tidak. Kami perempuan shalihat di dunia, mengalahkan bidadari surga."

Subhanallah, bahagialah orang yang memiliki mereka dan dimiliki mereka...

Mungkin tabiat perempuan memang selaras dengan fitrahnya yang pemalu. Diamnya saja bisa berarti setuju. (Jadi teringat pas Furqon melamar ustadzah Qonita, hehe). Menurut ulama besar, Syaikh Utsaimin. Beliau mengatakan, "Allah menyebutkan isteri-isteri untuk para lelaki di Surga adalah karena laki-laki merupakan pihak yang berterus terang menyatakan keinginannya pada perempuan....Allah swt tidak menyebutkan tentang suami-suami yang disediakan untuk kaum perempuan di Surga bukan karena mereka tidak punya pasangan di Surga nantinya. Barangkali itulah sebabbya kita sering mendapati ayat-ayat Al Quran yang menggiring kerinduan laki-laki akan surga dengan adanya bidadari surga. Berbeda dengan kaum perempuan, kaum perempuan tidak digiring untuk merindu surga melalui iming iming pasangan laki-laki surga.
Saudaraku, Semoga Allah memilih kita serta memberikan rahmat Nya sehingga kita diperkenankan memasuki surga Nya.

Rasulullah saw secara spesifik menyebutkan, " Tidak ada yang tidak menikah di surga," dalam hadits riwayat Muslim. Menurut syaikh Utsaimin tentang hadits ini, " Jika seorang perempuan di dunia belum menikah, maka Allah akan menikahkannya dengan suami yang menakjubkan pandangannya di surga."
Sungguh, surga saat ini tengah berhias menanti kalian wahai perempuan, sebagaimana surga berhias juga menanti kaum laki-laki. Khusus untuk kaum perempuan Rasulullah saw, "Jika seorang perempuan shalat lima waktu dan puasa di bulan Ramadhan, dan memelihara kemaluannya, lalu ia mentaati suaminya, akan dikatakan kepadanya: "Masuklah engkau kedalam surga, dari pintu manapun engkau mau."

Ternyata.... wanita shalihah di dunia ketika di surga insya Allah lebih cantik (sangat lebih utama) daripada bidadari surga...karena ke ’shalihahan’ mereka, karena shalat mereka, puasa mereka, shadaqah mereka, karena ibadah-ibadah mereka, karena mereka menjaga kemaluan dengan menutupi aurat dan tidak mendekati zina (pacaran, dll...mendekati saja ga boleh apalagi melakukan), karena ketaatan pada suaminya.
“Barang siapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan sedang ia yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga”.(QS. An-Nisa’:124)

Wallahu a’lam
--------------------

Sembari menitipkan kerinduan... Semoga Allah meringankan langkah kita untuk memperbaiki diri dan memperbanyak berbuat kebaikan.