Laman

Rabu, 11 April 2012

Perbuatan Baik







Perbuatan baik ('amilunshalihan), adalah salah satu dari konsep-konsep kunci di dalam Al-Qur'an. Dalam bahasa Arab, kata kebaikan terdiri dari arti baik dan bermanfaat. Dalam bahasa Arab, kata "ishlah", juga berasal dari akar yang sama. Konsekuensinya di dalam bahasa indonesia, setiap hal yang dilakukan untuk kebaikan agama, disebut perbuatan baik. Dalam istilah Al-Qur'an, segala hal yang diniatkan untuk mencari keridhaan Allah adalah perbuatan baik.

Keselamatan seseorang tidak semata bergantung kepada iman; tanda-tanda keimanan yang ikhlas dan perbuatan baik juga menyelamatkan jiwa. Syahadat yang tidak disertai menjalankan perintah agama, tidak akan menyelamatkan seseorang. Di dalam Al-Qur'an, Allah menyatakan sebagai berikut:
Apakah orang-orang mengira bahwa mereka akan dibiarkan saja seenaknya berkata: "Kami telah beriman", padahal keimanan mereka itu belum diuji? Al-Ankabut: 2-3

Niat seseorang melakukan perbuatan baik membuktikan semangatnya. Perbuatannya menandakan ketekunan, stabilitas, keteguhan hati, dan kesetiaannya; dengan kata lain kedalaman imannya.

Di dalam Al-Qur'an, Allah memberitahu kita tentang bermacam perbuatan baik. Menyampaikan ajaran Islam kepada masyarakat, berjuang untuk kemakmuran dan kesejahteraan umat Islam, berusaha mencapai pemahaman yang lebih baik tentang Al-Qur'an, menyelesaikan setiap persoalan umat Islam, baik yang pribadi maupun yang umum; kesemuanya itu adalah perbuatan baik. Bentuk penganutan ajaran Islam yang mendasar seperti shalat, puasa, zakat, dan haji; adalah bagian dari perbuatan baik juga:
Bukanlah termasuk golongan kebajikan menghadapkan muka ke arah timur dan barat, tetapi yang termasuk golongan kebajikan, ialah beriman kepada Allah, hari akhirat, malaikat-malaikat, Kitab-kitab, nabi-nabi, memberikan bantuan yang disayanginya kepada kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang terlantar dalam perjalanan, peminta-minta, dan memerdekakan perbudakan, mengerjakan shalat, menunaikan zakat, menepati janji yang telah diperbuat, sabar menderita kemiskinan dan kemelaratan, terutama ketika perang. Itulah orang-orang yang benar keimanannya, dan itu pulalah orang-orang yang takwa.Al-Baqarah: 177

Namun masih ada poin lain yang pantas disebut. Perkara yang menjadikan tindakan suatu kebaikan ialah niat dibelakangnya. Suatu tindakan menjadi kebaikan apabila diniatkan untuk mencapai keridhaan Allah. Inilah yang membedakan perbuatan baik dan amal; sebuah konsep yang dianggap lazim di masyarakat kita. Sebuah perbuatan baik dilakukan karena Allah. Sebaliknya, konsep amal yang berlaku di masyarakat, didasarkan pada semangat solidaritas sosial dan hasrat pribadi supaya disebut dermawan.

Ayat di bawah ini menjelaskan kenapa perbuatan orang mukmin sama sekali tidak sama dengan sedekah:
Mereka menunaikan kewajiban nadzar, dan takut akan satu hari, dimana siksaannya merata di mana-mana. Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang yang miskin, anak-anak yatim dan tawanan. Bahwasanya kami memberi makanan itu, semata-mata untuk mengharapkan keridhaan Allah. Kami tidak mengharapkan balasan dan ucapan terima kasih dari padamu. Bahwasanya kami benar-benar takut kepada siksaan "Hari dengan muka asam penuh cemberut", yang datang dari Tuhan kami. Al-Insan: 7-10

Perbuatan baik apapun yang tidak diniatkan karena Allah, bukanlah perbuatan baik sebab diniatkannya untuk memberi kesan baik kepada manusia. Inilah yang di dalam istilah Al-Qur'an disebut menyekutukan Allah, yang merupakan dosa besar. Dalam ayat dibawah ini Allah menjelaskan bagaimana sebuah tindakan yang dilakukan bukan karena Allah kehilangan maknanya dan menjadi sebuah tindakan biasa.
Celakalah mereka yang mengerjakan shalat, yang lalai dalam mengerjakan shalatnya Maksudnya dia melakukan shalat dengan fisiknya, namun tidak ada pengaruh shalat itu pada mentalnya. Yang hanya pura-pura agar dilihat orang saja.Al-Ma'un: 4-6. Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu hapus pahala sedekahmu, dengan menempelakkan kebaikanmu dan melukai perasaan si penerima. Samalah dengan orang yang mendermakan hartanya karena ingin pujian orang, sedang dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Perumpamaan yang sama dengan sebuah batu yang licin, di atasnya ada tanah. Kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, sampai licin tandas tanahnya. Hilang percuma semua usaha mereka itu. Allah tidak akan memberi pimpinan kepada orang-orang yang kafir. Perumpamaan orang-orang yang mendermakan harta bendanya demi mengharapkan keridhaan Allah dengan penuh keyakinan, adalah seperti sebuah kebun di dataran tinggi yang mendapat siraman hujan lebat, hasilnya dua kali lipat. Kalau hujan lebat itu tidak ada, hujan gerimispun sudah memadai. Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.Al-Baqarah: 264-265.
Begitu juga orang-orang yang menafkahkan hartanya supaya dilihat, didengar dan dipuji orang dan mereka tidak beriman kepada Allah dan hari akhirat. Dan orang-orang yang berkawan dengan setan, ingatlah setan itu adalah kawan yang seburuk-buruknya. Apa keberatannya bagi mereka jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat, dan menafkahkan sebagian rizki yang telah diberikan Allah kepadanya? Dan Allah Maha mengetahui keadaan mereka. An-Nisa: 38-39

Pendek kata, perkara yang membuat sebuah tindakan menjadi sebuah perbuatan baik adalah niat dibelakangnya. Jika niatnya baik, perbuatannya menjadi baik, bahkan walaupun hasil yang diinginkan tidak dicapai. Sebagai contoh, dengan niat mencari keridhaan Allah, seorang mukmin beribadah sepenuh hati namun usahanya kurang maksimal atau tidak mencapai tujuan, dia tetap mendapatkan pahala. Setiap mukmin hendaknya mengakui bahwa ada alasan mengapa Allah tidak selalu membiarkan seseorang mencapai tujuannya:
Diwajibkan atasmu berperang, padahal perang itu peristiwa yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik untukmu; dan boleh jadi pula kamu menyenangi sesuatu, padahal ia buruk untukmu. Dan Allah yang mengetahui sedangkan kamu tidak. Al-Baqarah: 216

Allah mengetahui segala hal yang baik untuk manusia. Karenanya hasil dari setiap perbuatan selalu bersandar kepada Allah. Setiap kewajiban hendaknya dilakukan semata untuk mencapai keridhaan Allah. Seperti dinyatakan diatas, niat adalah esensi dari perbuatan baik. Ini karena fakta bahwa Allah tidak memerlukan apapun yang dipersembahkan oleh hambanya. Firman Allah:
Hai manusia! Kamulah yang berkepentingan kepada Allah, sedang Allah itu Maha Kaya dan tumpuan puji. Jika Dia mau, niscaya dimusnahkan-Nya kamu dan digantinya kamu dengan makhluk yang baru. Hal itu bagi Allah tidak sukar. Fathir: 15-17

Allah dapat melakukan apapun yang diinginkan tanpa memerlukan perbuatan dan usaha dari orang mukmin supaya agamanya menang:
Dialah yang membentangkan persada bumi, lalu dijadikan-Nya disana gunung-gunung dan sungai-sungai. Dan Dialah yang menjadikan semua jenis buah-buahan serba berpasangan Maksudnya jantan dan betina, serta Dia pulalah yang menyungkupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada hal-hal yang demikian ditemukan tanda-tanda kebesaran Tuhan bagi orang-orang yang mau berfikir. Ar-Ra'du: 3

Pendek kata, jika seorang manusia melakukan perbuatan baik, perbuatannya itu menambah keuntungan pribadinya. Tindakan yang benar adalah cara pasti untuk mencapai keselamatan abadi:
Dan barang siapa yang berjihad, maka kemanfaatan jihadnya itu, adalah untuk dirinya sendiri, karena sesungguhnya Allah sungguh-sungguh Maha Kaya, tak membutuhkan sesuatupun dari alam semesta ini. Al-Ankabut: 6

Orang yang shalat, zakat, puasa, atau mendukung Islam, pada intinya berbuat untuk dirinya sendiri. Dirinya sendirilah yang memerlukan berbuat baik. Sebagai balasannya, dia akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar. Untuk alasan yang sama, dihadapan Allah, sebuah perbuatan baik diterima hanya ketika perbuatan itu dilakukan dengan niat baik:
Daging-daging dan darah binatang ternak itu tidak akan sampai kepada Allah. Namun yang akan sampai kepadaNya hanyalah ketakwaan dari hatimu jua. Demikianlah Dia menguntukkan binatang ternak itu bagimu, Semoga kamu mengagungkan Allah berkenaan dengan petunjukNya kepadamu. Lalu berilah berita gembira kepada orang-orang yang berbuat kebajikan.Al-Hajj: 37

Karenanya, ketika melakukan perbuatan baik, sangat penting untuk senantiasa mengingat Allah dengan cara berdoa agar diterima amalannya. Doa Nabi Ibrahim dan Ismail adalah contoh yang bagus:
Ingat pulalah ketika Ibrahim dan Ismail membina dasar-dasar Baitullah, keduanya berdo'a: "Wahai Tuhan kami! Terimalah karya kami, sesungguynya Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengetahui". Wahai Tuhan kami! Jadikanlah kami berdua, manusia muslim yang patuh kepadaMu, dan begitu juga jadikanlah anak cucu kami umat yang patuh juga kepada-Mu, dan tunjukkanlah kepada kami peraturan ibadat haji kami, dan terimalah tobat kami, sesungguhnya Engkau Maha Penerima tobat dan Maha Penyayang. Al-Baqarah: 127-128

Teguran Allah kepada Daud dan umatnya, juga menekankan arti doa dan bersyukur kepada Allah selama berbuat baik:
Jin-jin itu mengerjakan untuk Sulaiman apa yang dipesankannya, seperti: Gedung-gedung yang tinggi, arca-arca, dulang-dulang Piring yang besar raksasa bagai kolam air, dan cerek-cerek raksasa yang tetap terletak di atas tungku karena besarnya. Bekerjalah hai Keluarga Daud, dengan penuh rasa terima kasih! Namun sedikit sekali di antara hamba-hambaku yang tahu terima kasih itu! Saba: 13

Ini adalah tipe ibadah yang memperkuat iman seseorang kepada Allah. Pernyataan syahadat seseorang dikuatkan dengan ibadah:
Barang siapa yang menghendaki Kejayaan, maka kejayaan itu hanya ada dalam pengabdian pada Allah sepenuhnya. Kepada dialah menjulang setiap ucapan yang baik Yang dimaksud dengan ucapan yang baik antara lain: kalimat tauhid, dzikir, dan membaca Al-Qur'an., sedang setiap perbuatan kebajikan menunjangnya. Adapun bagi mereka yang berbuat makar buruk telah disediakan suatu siksaan yang dahsyat. Rencana makar mereka itu segera akan nampak kegagalannya. Fathir: 10

Seorang mukmin tekun yang melakukan perbuatan baik selama hidupnya akan memperoleh surga dan nikmat yang berlimpah:
Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan perbuatan kebajikan. (Kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang, melainkan sekedar kesanggupannya) Kalimat yang terletak antara dua tanda kurung, adalah sebagai peringatan bahwa untuk mendapatkan sebutan "penghuni syurga" dengan syarat beriman dan mengerjakan perbuatan kebajikan adalah sangat mudah tanpa kesulitan apapun. Merekalah penghuni-penghuni syurga dan mereka kekal di dalamnya. Kami hapuskan semua dendam yang bersarang di dalam dadanya yang menyebabkan ia terganggu dari menikmati syurga yang banyak mengalir sungai-sungai di bawahnya, sementara itu mereka mengatakan: "Segala pujian untuk Allah yang telah memimpin kami untuk mendapatkan syurga ini, tidaklah kami akan menemui jalan ini, kiranya Allah tidak memimpin kami". Sesungguhnya Rasul-rasul Tuhan kami, betul-betul datang membawa kebenaran. Lalu diserukan kepada mereka: "Itulah syurga yang diwariskan kepadamu sebagai balasan dari kebajikan yang kamu kerjakan dahulu". Al-A'raf: 42-43

Diterjemahkan dari "The Basic Concepts in The Qur'an" karya Harun Yahya. www.harunyahya.com. Terjemahan Al-Qur'an dikutip dari "Terjemah dan Tafsir Al-Qur'an" susunan Bachtiar Surin terbitan Fa. SUMATRA Bandung.

Minggu, 08 April 2012

Maaf, Tolong dan Terima Kasih





Orang pernah bilang, “Dont judge the books from its cover!”.
Wajah sebuah buku adalah sampulnya, tapi menilai isi buku hanya dengan melihat sampulnya saja tentu bermasalah. 
Begitupun kalau kita hanya menilai seseorang dari luarnya saja maka yang ada adalah penilaian semu, dan ini akan lebih bermasalah. 
Dikatakan bermasalah karena penilaian luar cenderung bersifat simbolisasi, sehingga semua itu membuat kita buta pada keindahan nilai dalam.

Buku ini yg mengInspirasiku, biarpun kecil bukunya, tpi makna & syarat isinya sangat Luar Biasa.
disaat sendiri diwaktu luangku sempatkan jjl ke toko buku Gramedia
Buku kecil ini yg pertama kali aku baca
bukan promosi tpi aku telah membuktikannya
Selamat Membaca....!!!!!


Ahlan Wa Sahlan! Kayfa haalukum? Semoga teman-teman selalu dalam kondisi sehat wal’afiat. Mari dikesempatan yang baik ini kita kaji tentang tiga kata sakti yang sering terlupakan oleh kita, yaitu “maaf”, “tolong” dan “terima kasih”. Ketiganya adalah kata-kata yang terlihat sederhana, namun sebenarnya memiliki arti yang sangat besar dan bermakna positif bagi siapa saja yang mendengarnya. Anehnya, meskipun tiga kata itu sangat bermakna positif, tapi mengapa sepertinya sangat sulit sekali ya keluar dari mulut kita?


Maaf
Manusia adalah tempatnya salah dan khilaf, seperti ungkapan terkenal “nobody’s perfect”. Dari mulai tukang becak sampai seorang presiden sekalipun pasti pernah berbuat kesalahan. Bahkan, Nabi Muhammad SAW, pemimpin terhebat dan terbesar sepanjang sejarah umat manusia, pernah melakukan kesalahan dan ditegur langsung oleh Allah SWT saat beliau memalingkan pandangan dari seorang buta bernama Abdullah bin Ummi Maktum yang ingin belajar tentang Islam.

Digambarkan saat itu Rasulullah berwajah masam dan memalingkan pandangan dari si buta karena sedang menjamu para pembesar suku Quraisy. Atas sikapnya ini, Allah SWT menegur beliau yang kemudian diabadikan di dalam Al-Qur’an surat ke 80, ‘Abasa. Inilah yang membedakan antara manusia biasa dengan seorang Nabi. Di saat seorang Nabi melakukan kesalahan, Sang Maha Pencipta-lah yang langsung memberikan teguran dengan cara-Nya.

Kalau seorang Nabi saja yang sebenarnya terjaga dari dosa melakukan kesalahan, bagaimana kita ini? Tapi kenapa tetap susah sekali untuk mengucapkan kata ”maaf”? Jawabannya adalah karena “maaf” membutuhkan keikhlasan yang luar biasa bagi yang mengucapkannya. Selain itu, banyak yang tidak mau mengucapkan karena anggapan salah selama ini yang menyatakan bahwa meminta maaf itu berbanding lurus dengan kekalahan, kelemahan dan ketidakberdayaan.

Padahal tidak seperti itu. Meminta maaf justru akan membuat kita semakin mulia, bukan hanya di sisi manusia namun juga di sisi Allah SWT. Di sisi manusia, meminta maaf akan menumbuhkan rasa kasih sayang di antara sesama. Jika orang yang meminta maaf tulus dan ikhlas, maka itu bisa dirasakan oleh orang yang dimintakan maaf, dan hal tersebut akan menyambung kembali tali silaturahmi diantara keduanya. Suatu permusuhan yang sudah sangat lama pun bisa selesai hanya jika salah satu pihak berinisiatif untuk meminta maaf. Hilangkan perasaan gengsi. Kalo mau gengsi-gengsian mending kelaut aja hehe…

Di sisi Allah SWT, orang yang meminta maaf tulus kepada orang lain akan dilihat oleh-Nya sebagai orang yang rendah hati dan tidak sombong. Kesombongan sering menjadi alasan mengapa kita tidak mau meminta maaf. Dari mulai sombong karena status sosial, harta, jabatan, pangkat, hingga karena merasa tidak bersalah. Kesombongan adalah sifatnya syaitan karena itulah sifat yang ditunjukkan pertama kalinya di saat dia tidak mau sujud kepada Nabi Adam.

Kesombongan dapat menghalangi seseorang untuk masuk ke dalam Surga, meskipun bentuk kesombongan itu teramat kecil. Rasulullah SAW bersabda,“Tidak masuk surga orang yang di dalam hati ada kesombongan meskipun hanya sebesar biji sawi.” (HR. Muslim)

Meminta maaf dapat menghilangkan rasa sombong yang ada dalam hati karena membuat kita bisa menerima keadaan diri sebagai makhluk yang tidak mungkin luput dari kesalahan. Mengucapkan “maaf “tidak berarti kita mengakui kekalahan, melainkan membawa kemenangan karena mampu menguasai emosi kesombongan yang ada di dalam hati kita. ”Maaf” mengajarkan bahwa semua manusia adalah sama dan kebenaran adalah hak bagi siapa saja, tanpa terkecuali.


Tolong
Manusia itu diciptakan sebagai makhluk sosial. Maksudnya, kita tidak akan bisa hidup tanpa bantuan orang lain. Bahkan, sampai meninggal dunia pun kita masih membutuhkan bantuan, paling tidak 4 orang, untuk mengangkat jenazah kita dan dimasukkan ke dalam kubur. Setelah kita sadar dengan kenyataan tersebut, lalu mengapa kata “tolong” sangat sulit diucapkan ya? Apalagi, bagi orang-orang yang merasa memiliki kedudukan sosial yang tinggi.

Padahal, kedudukan sosial itu tidak berpengaruh apa-apa. Kedudukan sosial hanya dalam bidang pekerjaan, dan bukan dalam derajat manusia. Di antara sesama manusia itu tidak ada perbedaan status, kecuali tingkat ketakwaannya. Kata “tolong” membuat kita sadar akan keterbatasan dan kelemahan yang dimiliki. “Tolong” membuat kita lebih mampu untuk menerima diri sendiri secara apa adanya, dan melihat apa yang bisa dan tidak bisa kita lakukan.

Sebagian orang merasa tidak perlu meminta tolong karena menganggap orang yang kita perintahkan itu memang sedang mengerjakan kewajibannya. Saat seorang majikan meminta untuk memasak, mungkin sang majikan memang sudah menganggap bahwa tugas pembantu itu salah satunya ya memasak, jadi tidak perlu lagi menyuruhnya dengan embel-embel kata “tolong”.

Padahal hidup ini kan seperti roda. Kadang kita di atas, terkadang di bawah. Kadang kita meminta pertolongan orang lain, di saat lain orang lain akan meminta pertolongan kepada kita. Selain itu, cara meminta tolong pun menjadi penting. Coba posisikan diri kita di saat orang lain meminta pertolongan kepada kita tapi dengan cara yang tidak baik, atau bahkan mungkin menyuruh dengan kasar. Bagaimana perasaan kita? Pasti tidak suka kan? Kalo pun ada orang yang suka dikasarin berarti ada kelainan itu orang hehe

Sungguh indah jika kita terbiasa hidup dalam suasana saling tolong menolong, karena Islam sendiri telah mengajarkan budaya ini. Allah SWT berfirman, “…Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan…” (QS. Al-Maidah [5] : 2)

Ayah saya selalu mengajarkan jika ada seseorang meminta pertolongan dan saya dalam kapasitas mampu untuk menolongnya, maka wajib hukumnya untuk memberikan pertolongan. Beliau mengajarkan kepada saya untuk selalu memiliki sifat 3H’s: Honest, Humble dan Helpful. It is really true because“Honest is the best attitude, Humble is the best approach and Helpful is the best investment.”

Ya memang benar, menolong orang lain merupakan suatu investasi karena bisa saja suatu saat gantian kita yang akan membutuhkan pertolongan orang tersebut. Bukankah hidup ini seperti roda? Kadang kita berada di atas dan di lain waktu kita akan berada di bawah. Saat kita berada di atas, sebetulnya harus lebih sering lagi menolong orang lain karena ingat, bahwa sewaktu-waktu roda kehidupan bisa bergerak ke bawah. Tolong lah orang-orang yang membutuhkan bantuan dari kita. Apalagi, jika orang yang meminta pertolongan sedang dalam kondisi terzhalimi.

Seperti yang telah dijelaskan Rasulullah dalam haditsnya, “Tolonglah saudaramu yang menzhalimi dan yang terzhalimi.” Para sahabat pun bertanya, “Menolong yang terzhalimi memang kami lakukan, tapi bagaimana menolong orang yang berbuat zhalim?” Rasulullah menjawab, “Membantu mencegahnya dari terus menerus melakukan kezhaliman itu berarti engkau telah menolongnya”. (Bukhari dan Ahmad)


Terima Kasih
Ucapan “terima kasih” adalah salah satu bentuk rasa syukur kita kepada Allah SWT melalui perantara manusia. Syukur sendiri merupakan hal yang diperintahkan oleh Allah SWT dalam firman-Nya, “Dan ingatlah tatkala Tuhanmu memaklumkan: ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”‘ (QS. Ibrahim [14] : 7)

Dalam ayat tersebut terdapat Allah SWT bahwa siapa saja yang bersyukur maka akan ditambahkan nikmat dan bagi siapa saja yang ingkar akan mendapat adzab. Sebenarnya, itu sama saja dengan hubungan kita kepada sesama manusia. Di saat kita mendapatkan bantuan / pertolongan dari orang lain, lalu kita menghargainya dengan mengucapkan “terima kasih” atas segala kebaikannya, maka bisa dipastikan orang itu akan merasa senang dan mau untuk menolong lagi di lain kesempatan.

Jangan pernah lupa untuk mengucapkan “terima kasih”, karena itu adalah penghargaan terhadap segala kebaikan yang telah diberikan oleh orang lain kepada kita. Namun sayangnya, kita sering sekali lupa untuk mengucap kata sakti ini. Bagi sebagian yang lain, “terima kasih” sangat sulit untuk diucapkan karena memang ucapan “terima kasih” membutuhkan ketulusan dari yang mengucapkannya.

Menurut sebuah riset, dalam menjalani hubungan dengan orang lain, ucapan “terima kasih” sekecil apapun dapat membuat suatu hubungan menjadi harmonis dan lebih baik. Baik itu dalam rumah tangga, pekerjaan, pernikahan, dan pacaran hehe.. Coba tanya dari pedagang gado-gado sampai pedagang berlian, pasti mereka senang jika dihargai, terlepas dari apapun profesinya. Hal ini bisa terjadi karena memang dasarnya manusia itu suka dihargai.

Saya pernah membaca buku bagus yang berjudul “The True Power of Water” karangan Dr. Masaru Emoto, seorang peneliti dari Jepang. Dalam buku itu dijelaskan bahwa air memiliki banyak keistimewaan. Salah satu yang fakta yang dipaparkan bahwa ternyata air bisa merekam pesan, seperti pita magnet atau compact disk. Air mampu untuk “mendengar” kata-kata, dapat “membaca” tulisan, dan bisa “mengerti” setiap pesan yang disampaikan.

Rasulullah pun ternyata sudah pernah menyampaikan hal tersebut dalam haditsnya, “Air zamzam akan melaksanakan pesan dan niat yang meminumnya. Barangsiapa minum supaya kenyang, dia akan kenyang. Barangsiapa minum untuk menyembuhkan sakit, dia akan sembuh.” Setiap kata-kata dan perilaku positif yang dilakukan terhadap air, maka air akan merespons secara positif dan berbentuk indah. Tapi jika kata-kata kasar yang diucapkan, maka air akan berubah bentuk menjadi sangat buruk.

Dr. Emoto melakukan penelitian terhadap air menggunakan mikroskop elektron dengan kamera kecepatan tinggi. Percobaan pertama saat air diucapkan kata “Arigato” yang artinya terima kasih, ternyata molekul air membentuk kristal segi enam yang sangat indah. Selanjutnya diucapkan kata “setan”, kristal berbentuk sangat buruk dan mengerikan. Kemudian air diputarkan musik Symphony Mozart, kristal muncul berbentuk bunga. Tapi ketika musik heavy metal yang diperdengarkan, kristal tersebut langsung hancur. Subahanallah bukan?

Lalu apa hubungannya sama manusia? Tentu ada! Sekitar 75% kandungan dari tubuh manusia berupa air. Dalam setiap tubuh makhluk hidup, komposisi air pastilah yang paling banyak, dan itulah yang menciptakan kehidupan. Hal ini pun sudah dijelaskan di dalam Al-Qur’an, “…Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” (Q.S. Al-Anbiya [21] : 30)

Karena komposisi air terbanyak, ini berarti bahwa sifat-sifat yang ada dalam air tentunya akan ada juga dalam tubuh manusia. Coba saja buktikan dan bandingkan, saat kita mengucapkan kepada teman kita, “Terima kasih ya, semoga Allah SWT membalas kebaikan kamu.” Apa reaksi teman kita? Pasti senang dan hatinya berseri-seri. Apalagi kalo yang ngucapin itu TTM-nya, bisa ga tidur semaleman. Tapi apa jadinya jika kita mengucapkan, “Hi monyet, ambilin buku di meja situ dong! Cepetan ga pake lama!”, kira-kira apa reaksi teman kita? hehe…

Ya itulah manusia, fitrahnya adalah suci. Allah SWT memiliki sifat Yang Maha Pengasih, Yang Maha Penyayang dan Yang Maha Lembut. Maka Dia suka dengan kasih sayang dan kelembutan. Manusia yang merupakan ciptaan-Nya pun sudah pasti memiliki fitrah yang sama dengan Sang Pencipta. Manusia senang dengan kasih sayang dan kelembutan, hatinya akan menjadi tentram dan nyaman.


Ingat Selalu 3 Kata Sakti
Jangan pernah lupa untuk selalu membiasakan diri mengucapkan kata “maaf”, “tolong” dan “terima kasih” kepada siapapun karena kekuatan kata-kata tersebut sangat luar biasa. Bukan saja bagi yang mendengar, tapi juga bagi yang mengucapkan. Ketiga kata tersebut akan melatih kita untuk belajar menghargai orang lain. Dengan mampu menghargai orang lain, paling tidak kita telah menghargai diri kita sendiri.

ketiga kata tersebut sangat sakti dan bisa membangun hubungan yang istimewa antara satu manusia dengan manusia lainnya. Dengan sering melatih mengucapkannya, maka hubungan silaturahmi akan terbangun lebih baik lagi di antara manusia. Jika hubungan silaturahmi sudah terbangun dan terjaga, maka kita tinggal menunggu saja bonus dari Allah SWT.

Beberapa bonus dari bersilaturahmi diantaranya adalah panjang umur, keberkahan hidup, dosa-dosa diampuni hingga memperlancar rezeki. Cukup banyak hadits yang menjelaskan tentang hal ini, salah satunya, “Barang siapa yang merasa senang bila dimudahkan rezekinya dan dipanjangkan usianya, maka hendaklah dia menyambung tali silaturahmi.” (HR. Muslim)

Akhirnya, saya mengucapkan “maaf” jika ada kesalahan dalam tulisan ini,“tolong” diamalkan apa yang saya sampaikan jika memang bermanfaat, dan“terima kasih” karena sudah berkenan membaca # 


Wallahu a’lam bishshawwab






Triwinsinus.blogspot.com

Senin, 26 Maret 2012

Doa Kekuatan Maha Dahsyat

Kita di dalam mengarungi kehidupan ini sering mengalami masalah dan kendala. Bahkan untuk memenuhi keinginan, harapan dan impian kita merasa tak mampu karena kita tidak mengetahui kepastian dari apa yang ingin kita wujudkan. Namun Jangan khawatir karena kita memiliki sumberdaya yang mahadahsyat bernama : DOA. Selamat menyimak.

Berdoalah 

Seorang lelaki datang kepada Nabi Saw. Dan mengatakan, “Wahai Rasulullah, apakah Tuhan kita itu jauh sehingga kita menyerunya, ataukah Dia dekat sehingga kita cukup berbisik kepada-Nya?”
Sesaat Nabi Saw. terdiam, lalu turunlah firman Allah :
“Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang-orang yang berdo’a apabila ia berdo’a kepada-Ku...” (Al-Baqarah: 186)
Juga firman Allah berikut ini :
“Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu...” (Al-Mukmin: 60).
Kedua ayat di atas menjelaskan bahwa Allah pasti mengabulkan do’a orang-orang yang berdo’a. Ya, syaratnya adalah apabila kita berdo’a. Perhatikanlah hadits berikut ini :
“Sesungguhnya Allah itu Maha Malu dan Maha Pemurah. Allah malu jika ada seseorang yang menengadahkan kedua tangan kepada-Nya tapi kemudian menolaknya dengan tangan hampa.” (HR. Abu Dawud, At-Turmudzi, dan Ibnu Majah).
Semoga hadits ini membuat kita yakin bahwa Allah malu menolak begitu saja kedua tangan hamba-Nya yang menengadah kepada-Nya membawa do’a-do’a.Setelah hati kita yakin bahwa Allah pasti mengabulkan do’a kita, maka yang perlu kita siapkan sekarang adalah syarat-syarat pengabulan do’a berikut ini :

Pertama : keyakinan akan terkabulnya do’a
Rasulullah bersabda, “ Berdo’alah kalian kepada Allah dalam keadaan yakin akan terkabulkannya do’a itu.” (HR. At-Turmudzi).

Kedua : kekhusyukan di hadapan Allah
Rasulullah bersabda, “Ketahuilah, bahwa Allah tidak akan mengabulkan do’a dari seseorang yang lalai dan tidak serius”. (HR. At-Turmudzi).
Seringkali kita berdo’a selepas sholat namun kita tidak merasakan apa yang kita ucapkan, kecuali kata-kata “allahumma” atau kata-kata “amin”.
Imam Ahmad Bin Hanbal berkata, “ Tahukah kalian bagaimana seharusnya seorang muslim berdo’a?” Mereka bertanya, “Bagaimanakah itu wahai Imam?”. Beliau menjawab, “Tahukah kalian bagaimana seseorang yang berada di tengah gelombang lautan, sementara ia hanya memiliki sebatang kayu, dan ia pun akan tenggelam? Kemudian ia berdo’a dengan mengatakan, “Ya Rabbi, selamatkanlah aku, Ya Rabbi selamatkanlah aku... Maka demikianlah seharusnya seorang muslim berdo’a.”
Perhatikan juga ayat ini :
“Atau siapakah yang memperkenankan do’a orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo’a kepada-Nya..” (An-Naml: 62)
Saudaraku, hiduplah di dunia dalam kondisi serba “kesulitan”, karena tidak ada yang lebih mirip dengan dunia selain “lautan yang bergelombang”. Jika telah demikian, maka Allah pun akan memberikan kejayaan kepada kita. Rasakanlah perasaan butuh, maka Dia pun akan menganugerahkan kekayaan kepada kita. Rasakanlah perasaan lemah, maka Dia akan mengulurkan kekuatan kepada kita.

Ketiga : jangan tergesa-gesa
Nabi Saw. Bersabda : “Akan dikabulkan doa seseorang kalian sepanjang ia tidak tergesa-gesa. Ia berkata, ‘Aku telah berdoa dan berdoa, namun aku tidak melihat terkabulnya doaku’, sehingga ia pun tidak lagi berdoa.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At-Turmudzi, Ibnu Majah).
Dalam sebuah atsar disebutkan bahwa Allah bertanya kepada Jibril, “Wahai Jibril, apakah hambaKu berdoa kepadaku?”. Jibril menjawab, “Ya”. Allah bertanya lagi, “Apakah ia menghiba kepadaku dalam meminta?”. Jibril menjawab, “Ya”. Maka Allah berfirman, “Wahai Jibril, tangguhkanlah (pengabulan) permintaan hambaKu, karena Aku suka mendengar suaranya.”

Minggu, 25 Maret 2012

Pemimpin :) "Qowam"

Kepemimpinan itu wajib ada, baik secara syar’i ataupun secara ‘aqli. Adapun secara syar’i misalnya tersirat dari firman Allah tentang doa orang-orang yang selamat :)) واجعلنا للمتقين إماما )) “Dan jadikanlah kami sebagai imam (pemimpin) bagi orang-orang yang bertaqwa” [QS Al-Furqan : 74]. Demikian pula firman Allah أطيعوا الله و أطيعوا الرسول و أولي الأمر منكم )) )) “Taatlah kalian kepada Allah dan taatlah kalian kepada Rasul dan para ulul amri diantara kalian” [QS An-Nisaa’ : 59]. Rasulullah saw bersabda dalam sebuah hadits yang sangat terkenal : “Setiap dari kalian adalah pemimpin, dan setiap dari kalian akan ditanya tentang kepemimpinannya”. Terdapat pula sebuah hadits yang menyatakan wajibnya menunjuk seorang pemimpin perjalanan diantara tiga orang yang melakukan suatu perjalanan. Adapun secara ‘aqli, suatu tatanan tanpa kepemimpinan pasti akan rusak dan porak poranda.


Kriteria Seorang Pemimpin

Karena seorang pemimpin merupakan khalifah (pengganti) Allah di muka bumi, maka dia harus bisa berfungsi sebagai kepanjangan tangan-Nya. Allah merupakan Rabb semesta alam, yang berarti dzat yang men-tarbiyah seluruh alam. Tarbiyah berarti menumbuhkembangkan menuju kepada kondisi yang lebih baik sekaligus memelihara yang sudah baik. Karena Allah men-tarbiyah seluruh alam, maka seorang pemimpin harus bisa menjadi wasilah bagi tarbiyah Allah tersebut terhadap segenap yang ada di bumi. Jadi, seorang pemimpin harus bisa menjadi murabbiy bagi kehidupan di bumi.

Karena tarbiyah adalah pemeliharaan dan peningkatan, maka murabbiy (yang men-tarbiyah) harus benar-benar memahami hakikat dari segala sesuatu yang menjadi obyek tarbiyah (mutarabbiy, yakni alam). Pemahaman terhadap hakikat alam ini tidak lain adalah ilmu dan hikmah yang berasal dari Allah. Pemahaman terhadap hakikat alam sebetulnya merupakan pemahaman (ma’rifat) terhadap Allah, karena Allah tidak bisa dipahami melalui dzat-Nya dan hanya bisa dipahami melalui ayat-ayat-Nya. Kesimpulannya, seorang pemimpin haruslah seseorang yang benar-benar mengenal Allah, yang pengenalan itu akan tercapai apabila dia memahami dengan baik ayat-ayat Allah yang terucap (Al-Qur’an) dan ayat-ayat-Nya yang tercipta (alam).

Bekal pemahaman (ilmu dan hikmah) bagi seorang pemimpin merupakan bekal paling esensial yang mesti ada. Bekal ini bersifat soft, yang karenanya membutuhkan hardware agar bisa berdaya. Ibn Taimiyyah menyebut hardware ini sebagai al-quwwat, yang bentuknya bisa beragam sesuai dengan kebutuhan. Dari sini bisa disimpulkan bahwa seorang pemimpin harus memiliki dua kriteria: al-‘ilm dan al-quwwat.

Yang dimaksud dengan al-‘ilm (ilmu) tidaklah hanya terbatas pada al-tsaqafah (wawasan). Wawasan hanyalah sarana menuju ilmu. Ilmu pada dasarnya adalah rasa takut kepada Allah. Karena itulah Allah berfirman,”Yang takut kepada Allah diantara para hamba-Nya hanyalah para ulama” (QS. Faathir: 28). Ibnu Mas’ud pun mengatakan,”Bukanlah ilmu itu dengan banyaknya riwayat, akan tetapi ilmu adalah rasa takut kepada Allah”. Namun bagaimana rasa takut itu bisa muncul ? Tentu saja rasa itu muncul sesudah mengenal-Nya, mengenal keperkasaan-Nya, mengenal kepedihan siksa-Nya. Jadi ilmu itu tidak lain adalah ma’rifatkepada Allah. Dengan mengenal Allah, akan muncul integritas pribadi (al-‘adalat wa al-amanat) pada diri seseorang, yang biasa pula diistilahkan sebagai taqwa. Dari sini, dua kriteria pemimpin diatas bisa pula dibahasakan sebagai al-‘adalat wa al-amanat (integritas pribadi) dan al-quwwat.

Selanjutnya, marilah kita tengok bagaimanakah kriteria para penguasa yang digambarkan oleh Allah dalam Al-Qur’an. Dalam hal ini kita akan mengamati sosok Raja Thalut (QS. Al-Baqarah: 247), Nabi Yusuf (QS. Yusuf: 22), Nabi Dawud dan Sulaiman (Al-Anbiya’: 79, QS Al-Naml: 15).

Raja Thalut:

Sesungguhnya Allah telah memilihnya (Thalut) atas kalian dan telah mengkaruniakan kepadanya kelebihan ilmu dan fisik (basthat fi al-‘ilm wa al-jism)” (QS. Al-Baqarah: 247).

Nabi Yusuf:
“Dan ketika dia (Yusuf) telah dewasa, Kami memberikan kepadanya hukm dan ‘ilm” (QS. Yusuf: 22).

Nabi Dawud dan Sulaiman:
“Maka Kami telah memberikan pemahaman tentang hukum (yang lebih tepat) kepada Sulaiman. Dan kepada keduanya (Dawud dan Sulaiman) telah Kami berikan hukm dan ‘ilm” (QS. Al-Anbiya’: 79).
“Dan sungguh Kami telah memberikan ‘ilm kepada Dawud dan Sulaiman” (QS. Al-Naml: 15).

Thalut merupakan seorang raja yang shalih. Allah telah memberikan kepadanya kelebihan ilmu dan fisik. Kelebihan ilmu disini merupakan kriteria pertama (al-‘ilm), sementara kelebihan fisik merupakan kriteria kedua (al-quwwat). Al-quwwat disini berwujud kekuatan fisik karena wujud itulah yang paling dibutuhkan saat itu, karena latar yang ada adalah latar perang.

Yusuf, Dawud, dan Sulaiman merupakan para penguasa yang juga nabi. Masing-masing dari mereka telah dianugerahi hukm dan ‘ilm. Dari sini kita memahami bahwa bekal mereka ialah kedua hal tersebut. Apakahhukm dan ‘ilm itu ?

Hukm berarti jelas dalam melihat yang samar-samar dan bisa melihat segala sesuatu sampai kepada hakikatnya, sehingga bisa memutuskan untuk meletakkan segala sesuatu pada tempatnya (porsinya). Atas dasar ini, secara sederhana hukm biasa diartikan sebagai pemutusan perkara (pengadilan, al-qadha’). Adanya hukm pada diri Dawud, Sulaiman, dan Yusuf merupakan kriteria al-quwwat, yang berarti bahwa mereka memiliki kepiawaian dalam memutuskan perkara (perselisihan) secara cemerlang. Al-quwwat pada diri mereka berwujud dalam bentuk ini karena pada saat itu aspek inilah yang sangat dibutuhkan.
Disamping al-hukm sebagai kriteria kedua (al-quwwat), ketiga orang tersebut juga memiliki bekal al-‘ilm sebagai kriteria pertama (al-‘ilm). Jadi, lengkaplah sudah kriteria kepemimpinan pada diri mereka.

Pada dasarnya, kriteria-kriteria penguasa yang dikemukakan oleh para ulama bermuara pada dua kriteria asasi diatas. Meskipun demikian, sebagian ulama terkadang menambahkan beberapa kriteria (yang sepintas lalu berbeda atau jauh dari dua kriteria asasi diatas), dengan argumentasi mereka masing-masing. Namun, jika kita berusaha memahami hakikat dari kriteria-kriteria tambahan tersebut, niscaya kita dapati bahwa semua itu pun tetap bermuara pada dua kriteria asasi diatas. Wallahu a’lamu bish shawaab.

Rabu, 21 Maret 2012

Belajar Dari Lebah

Untuk keluarga yang ingin Sakinah…

BELAJAR DARI LEBAH

Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah dan terus bertambah (Al Fath 4)

Tidak hanya seorang nabi dan rasul yang pernah mendapatkan wahyu dari Allah, ternyata seekor binatang juga pernah mendapatkan wahyu dari Allah untuk membenahi cara hidup dan pola kehidupannya hingga memperoleh ketenangan yang dapat memancarkan ketenangannya itu kepada manusia.

Surat An Nahl yang artinya lebah, memberikan inspirasi kepada kita untuk bisa menegakkan pilar-pilar kehidupan yang penuh dengan ketenangan. Setidaknya ada lima pilar yang tercermin dalam surat tersebut untuk menuju pada ketenangan hidup.

1. Kemandirian

Lebah dalam membuat sarangnya, ia pergi ke gunung-gunung, bukit, pohon-pohon atau tempat lain yang nyaman untuk melakukan produktifitas madu dan sejenisnya.

Allah berfirman: Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia” (An Nahl 68)

Keluarga muslim bisa belajar bagaimana lebah ini membangun kemandiriannya dalam keluarga, dalam menentukan arah dan kebijakan untuk meraih tujuan. Kemandirian ekonomi, kemandirian nilai dan kemandirian dalam menghadapi berbagai goncangan hidup adalah harga mati yang harus dimiliki oleh keluarga muslim.

Keluarga muslim berarti memiliki kemandirian manakala mampu istiqamah berpegang teguh kepada nilai-nilai Islam dalam menjalani kehidupan meskipun berhadapan dengan kendala yang berat dan lingkungan yang tidak Islami. Yasir dan Summayyah adalah suami isteri yang memiliki kemandirian nilai sehingga meskipun statusnya sebagai budak, ia mampu mempertahankan aqidah Islam yang diyakininya meskipun harus mati karena kezaliman majikannya yang menginginkan agar ia keluar dari Islam.

Dan dalam kehidupan sekarang yang pengaruh era globalisasi sedemikian besar, memiliki kemandirian nilai menjadi perkara yang amat penting, karena sesama anggota keluarga memang tidak bisa saling mengawasi setiap saat, bahkan tingkat kesibukan yang tinggi membuat anggota keluarga sulit berkomunikasi meskipun alat-alat komunikasi sudah semakin canggih.

2. Selalu makan yang halal

Lebah hanya mengambil makanan dari tempat yang manis, yang halal dan thayyib. Allah berfirman : kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). (An Nahl 69)

Maka jadikanlah keluarga anda sebagai keluarga islami yang hidup dari barang-barang yang halal dan jauh dari ketidak jelasan sumber maisyahnya. Halal dalam mencarinya dan halal dalam membelanjakannya.

Bila syariat telah melarang kita memberi makan keluarga dari sumber nafkah yang haram, maka sudah menjadi kewajiban suami agar hanya memberikan nafkah dari sumber yang halal, sehingga meskipun sedikit nafkah yang dapat diberikan suami tetapi mendapatkan barokah Allah, insya Allah. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 172, yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, makanlah kalian dari sebaik-baik rezeki yang Aku berikan kepadamu, dan syukurlah kepada Allah, jika kalian benar-benar mengabdi (menyembah) kepada-Nya.

Seorang istri wajib mengingatkan suaminya agar tidak mencari nafkah pada pekerjaan yang dilarang Allah dan tidak mengambil harta orang lain dengan jalan yang batil. Ia sudah semestinya mengatakan kepada suaminya, “Takutlah kamu dari usaha yang haram sebab kami masih mampu bersabar di atas kelaparan, tetapi tidak mampu bersabar di atas api neraka”. Sehingga merupakan suatu perbuatan zalim bila suami memberi nafkah untuk istri dan anak-anaknya dari harta haram. Mereka yang mungkin tidak mengetahui dari mana sebenarnya sumber nafkah yang diperoleh suami akan terkena getah perbuatan kepala keluarganya itu. Sebab dari dalam tubuh mereka telah tumbuh daging yang berasal dari harta haram. Naudzubillahi min dzalik. Semoga Allah melindungi tubuh kita dari harta haram, Allahumma amin.

3. Banyak manfaatnya

Dari input yang baik, maka menghasilkan output yang baik pula. Sebagaimana lebah, keluarga muslim berorentasi pada memberi bukan menunggu pemberian, atau menanti penerimaan dari orang lain. Allah berfirman : “Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya” (An Nahl 69) Dan Rasulullah juga bersabda : Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya

Sebaik-baik keluarga adalah keluarga yang selalu memberi manfaat kepada orang lain. Kebahagiaan bukan hanya kerana mampu memenuhi keperluan diri dan keluarga, tetapi juga mampu memberi kebahagiaan kepada orang lain. Karena menolong orang adalah rezeki bagi kita sebab rezeki tidak semestinya dalam bentuk uang. Menolong orang lain supaya mempunyai harga diri di depan anak dan isterinya juga adalah rezeki. Membantu anak tertangga supaya dapat bersekolah dan berhasil adalah juga rezeki. Kadang-kadang kita berasa berat mengeluarkan apa yang kita peroleh. Padahal apa yang kita keluarkan bagi membantu orang lain itu adalah rezaki kita.

4. Mampu bersosialisasi dengan baik

Lebah dapat hinggap diranting yang kecil tanpa mematahkannya. Rasulullah saw bersabda: “Seorang mukmin yang bergaul dengan banyak orang dan dan sabar atas tindakan buruk mereka itu lebih baik daripada seorang mukmin yang tidak pernah bergaul dan tidak sabar atas tindakan buruk mereka”

Maka profil keluarga muslim mestinya memiliki semangat human relation yangbaik, untuk membangun hubungan dan jaringan sosial di tengah masyarakat. Keluarga merupakan faktor utama dalam pembentukan karakteristik atau kepribadian individu atau anak dalam kehidupan bermayarakat. Kunci sukses hidup bermasyarakat adalah kemampuan untuk menjalin hubungan pertemanan. Dan apabila keluarga mengharapkan anaknya mampu bergaul dengan baik dan benar dalam masyarakat, maka sebaiknya dilakukan sosialisasi terhadap anak sejak dini. Namun, mengajarkan anak suka berteman atau bergaul di dlam lingkungan sosial atau lingkungan masyarakat tidaklah mudah. Khususnya bagi anak yang memang suka menyendiri atau tidak suka berteman.

Sosialisasi perlu dilakukan terhadap anak, karena apabila anak tidak dibekali aturan-aturan sosial dan nilai-nila islam maka saat anak beranjak remaja atau dewasa dan mulai berteman dengan banyak orang anak akan mendapat benturan dari lingkungan sosial atau lingkungan masyarakatnya. Bentuk dari benturan-benturan ini bisa bermacam-macam, anak yang tidak dibekali oleh aturan-aturan sosial dan nilai islam namun memiliki rasa percaya diri yang kuat, maka anak bisa dianggap aneh oleh masyarakat. Proses sosialisasi yang dilakukan oleh orang tua juga ditentukan oleh profesi atau pekerjaan orang tua, status orang tua dilingkungan mayarakat, dan kemampuan ekonomi serta faktor yang lainnya. Berbagai profesi atau pekerjaan yang dimiliki oleh orang tua mempunyai pengaruh yang sangat penting tentang bagaimana cara orang tua dalam mendidik anak-anaknya.

5. Ketulusan yang paripurna

Lebah dengan tulus berperan membantu penyerbukan bunga.Ketulusan ini adalah inspirasi mulia, bahwa memberi itu lebih mulia daripada menadahkan tangan untuk menerima, apalagi meminta-minta. Dalam memberikan apapun tidak perlu hitung-hitungan karena Allah pun akan menghitung. “Bersedekahlah dan jangan kamu menghitung-hitung sehingga Allah juga akan memakai hitungan-hitungan terhadapmu” (HR Ahmad)

Bukan saja dalam masalah financial, tetapi juga dalam cinta dan kasih saying. “Sebagaimana kamu memperlakukan, begitu pula kamu akan diperlakukan” (HR Ibn “Ady)

Semangat memberi rasa cinta inilah yang akan melanggengkan bangunan keluarga. Karena cinta akan menjadi perekat yang selalu actual menghadapi prahara. Karena orang yang berorentasi untuk memberi tentu akan selalu berusaha untuk menggali dan mencari mutiara dalam keluarga.

Kehidupan rumah tangga Rasulullah penuh dengan ketulusan memberikan rasa cinta. Itu sebabnya dakwah Islam mengalami kesuksesan. Maka setiap muslim dianjurkan untuk selalu tulus memberikan cintanya pada pasangannya. Sebagaimana Rasulullah Shallallahu ’alahi wasallam secara tulus mengekspresikan cinta pada para istrinya. Beliau pernah memanggil ’Aisyah dengan sebutan humaira, yang berarti pipi kemerahan. Tentu saja ekspresi cinta berupa pujian ini melambungkan hati ’Aisyah.

Rasulullah pun tidak malu memberikan tulus cinta pada ’Aisyah ketika ada seorang sahabat yang bertanya tentang siapa yang dicintai oleh Nabi. Dari golongan laki-laki Rasulullah menjawab Abu Bakar, sedangkan dari golongan perempuan adalah ’Aisyah.

Rasulullah juga dengan senang hati kerap menjahit sendiri bajunya dan membantu pekerjaan istri-istrinya. Beliau melakukan semuanya sebagai wujud perhatian dan ekspresi tulus cinta kepada sang istri.

Selasa, 20 Maret 2012

Salam Yang Benar Dalam Islam



Salam dalam Islam (Assalamualaikum / السلام عليكم / as-salāmu `alaykum)adalah sebuah sapaan yang didalamnya terdapat doa keselamatan, Assalamualaikum ini artinya adalah semoga kamu terselamatkan dari segala duka, kesulitan dan nestapa. Ibnu Al-Arabi di dalam kitabnya Al-Ahkamul Qur’anmengatakan bahwa Salam adalah salah satu ciri-ciri Allah SWT dan berarti “Semoga Allah menjadi Pelindungmu”, dengan dasar ini mari kita sejenak mengupas tata cara salam dalam Islam yang baik dan benar, karena tidak sedikit saya secara pribadi banyak sekali menemukan kesalahan-kesalahan dalam penyampaian salam, dan tidak menutup kemungkinan juga kita secara tidak disadari pernah menyampaikan salam yang salah, jadi mari kita evaluasi bersama-sama mengenai salam ini.

Rasulullah SAW memberi salam kepada keluarganya, sahabatnya, dan pada seluruh umat muslim dengan Lafadz “Assalamualaikum” dan dalam menjawab salam rasulullah memakai lafadz “Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh”.

Dengan demikian sudah sangat jelas salam yang benar berdasarkan dengan apa yang diajarkan rasulullah adalah memberi salam dengan “Assalamualaikum” danmenjawab salam dengan “Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh”, sebagai umat muslim yang baik sudah sepantasnyalah kita mengikuti cara penyampaian salam yang benar dari Rasulullah SAW.

Dikehidupan sehari-hari, kita sering menemukan orang yang berkirim-kirim salam atau menitipkan salam kepada temannya, sahabat, rekan, keluarga dan yang lainnya melalui seorang perantara baik itu melalui temannya teman kita, sahabatnya sahabat kita dan yang lainnya bahkan saya juga yakin kita semua pernah melakukan hal tersebut, tapi tahukah anda bahwa kita sering sekali melakukan kebiasaan kirim salam / titip salam dengan cara yang salah yaitu seperti ini : “Tolong sampaikan salam saya kepada si fulan” atau “Salam ya ke si fulan” atau “Salamin ya ke si fulan” dan dengan berbagai gaya bahasa lainnya, padahal cara yang benar dalam mengirimkan salam / menitipkan salam melalui seorang perantara adalah seperti ini : “Tolong sampaikan salam Assalamualaikum kepada si fulan”, atau “Salam assalamualaikum ya ke si fulan” atau “Salamin assalamualaikum ke si fulan”. intinya dalam megirimkan/menitipkan salam kita harus jelas menyebutkan Assalamualaikum dalam kata-kata titipan salam kita tersebut.

Kemudian kesalahan lain yang sering terjadi dan mungkin tanpa kita sadari juga yaitu dalam penyingkatan salam “Assalamualaikum” dalam penulisan SMS, chatting, surat, email dan lainnya, kita tidak bisa seenaknya saja mempersingkat salam “Assalamualaikum” ini kenapa demikian? karena sesuai dengan yang saya utarakan diawal bahwa salam dalam islam adalah sapaan yang didalamnya terdapat doa keselamatan, Penyingkatan yang salah dalam kebiasaan kita adalah seperti ini : “As”, “Ass”, “Akum”, “Askum”, “Ass. Wr.Wb”, “Mikum”, “Samelekom” dan masih banyak lagi penyingkatan salam dengan gaya dan bahasa gaul lainnya yang kesemuanya itu malah menjadikan salam “Assalamualaikum” menjadi berubah arti dan makna seperti “As(dalam bahasa inggris)” malah memiliki arti “sebagai”, “Ass(dalam bahasa inggris)” memiliki arti yang sangat parah yaitu keledai, orang bodoh dan (maaf) pantat, lalu “Akum(gelar untuk orang-orang yahudi)” adalah singkatan dari “Avde Kokhavim U Mazzalot” yang artinya “Hamba-hamba binatang dan orang-orang sesat”, jelas sekali penyingkatan yang tertera diatas sangat jauh dari makna doa keselamatan dalam “Assalamualaikum”.

Lalu apakah sebenarnya kita ini boleh mempersingkat salam “Assalamualaikum” dalam penulisan? tentu saja boleh tapi dengan penyingkatan yang benar yaitu “As Salam”, bukan penyingkatan yang seperti diatas telah diuraikan, “As-Salaam” adalah singkatan yang benar dari “Assalamualaikum”, As-Salaam (Maha Sejahtera) adalah satu dari Nama-nama Agung Allah SWT dalam surat Al-Hasyr ayat 23.

Satu lagi kesalahan dalam pengucapan salam yang terkadang sekilas ini seperti benar, bahkan tidak sedikit pula yang mengucapkan salam ini adalah orang-orang yang bertitle Haji, hajah, ustad dan tokoh-tokoh masyarakat lainnya, atau mungkin kita juga pernah mengucapkannya, seperti apakah pengucapan salam yang salah tapi seperti benar itu? yaitu salam “Assalamualaikum” yang ditambahkan kata “Ta’ala”, saya yakin kita semua pasti pernah mendengar pengucapan “Assalamualaikum” dengan ditambahkan kata “Ta’ala”, biasanya diucapkan seperti ini “Assalamualaikum warahmatullahi ta’ala wabarakatuh”, sekilas pengucapan salam seperti itu terdengar begitu bagus dan terdengar begitu benar, padahal ini adalah salah, berdasarkan kitab Al-Adzkar - Imam Nawawi, nabi besar kita Muhammad Saw telah mengajarkan kita cara salam sesama umat islam dengan 3 ucapan salam yaitu :

1. Assalamualaikum

2. Assalamualaikum Warahmatullah

3. Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Cara Memberi salam sesama umat islam ini ada dalam hadist dan merubah hadist hukumnya adalah pancung. disinilah kenapa menambahkan “Ta’ala” dalam salam “Assalamualaikum” adalah salah.

Semoga Kutipan Ini Dapat Bermanfaat, jika ada kesalahan kata atau bahasa saya minta maaf, kesalahan datangnya dari manusia, dan kebenaran datangnya dari Allah Swt.

Assalamualaikum

Senin, 12 Maret 2012

Outbound :) primary school pupils in Markas Kopassus Kartasura (Kandang Menjangan), Kartosuro


Apa sih outbound itu...?

Outbound tidak lain merupakan pelatihan manajemen diri (self management) yang memadukan olah pikir, rasa, dan raga. Dan dilakukan di alam terbuka dan dikondisikan di luar kebiasaan. “ Seperti orang yang bekerja meningalkan kebiasaanya berada, berfikir dan berbuat. Kemudian ia mengganti cara berfikir dan cara berbuat tersebut untuk mendapatkan hal-hal yang baru.” (L.Peter Lamury, SH, pembina Pusdiklat kesos Departemen Sosial)

Lalu bagaimana tahapan pembelajaran disana...?

Tahapan proses belajar di outbound mempunyai empat tahapan, dimana para peserta diajak melakukan permainan Games Outbound tertentu yang kita sebut experience, setelah tahap experience, mereka mendiskusikan manfaat permainan itu dalam kelompok kecil (processing), dan menyimpulkannya dari hal yang kecil ke hal-hal yang besar (generalizing), selanjutnya mereka merefleksikannya dan menerapkan pengalaman itu dalam sistem kerja sesuai dengan kehidupan mereka.


Dengan demikian outbound memiliki ciri khas sendiri, dimana keseluruhan kegiatan diterjemahkan dalam betuk kegiatan yang lebih nyata dan factual. Di dalam berbagai kegiatan para peserta outbound akan diperkenalkan dengan berbagai jenis permainan (games) yang dipimpin fasilitator secara fairplay.

Refleksi bersama selalau dilakukan setelah setiap gameberlangsung. Sehinga sekalipun dibentuk pola permainan tapi hasilnya bukan main-main.
Selanjutnya, para peserta disadarkan untuk menyadari, bahwa hampir tidak ada batasnya kemampuan seseorang bila orang tersebut memiliki kemauan dan keberanian untuk mencoba dan mencoba lagi dalam upaya meningkatkan kemampuannya. Karena itu, semboyan pelatihan yang selalu kita pekikkan adalah : “Saya bisa, saya bisa” dan “Tetap semangat...!!”.

Kemudian diharapkan peserta menyadari bahwa apa yang dilakukan itu merupakan bagian tak terpisahkan dalam kebersamaan dengan rekan-rekannya dalam team. Keberhasilan seorang individu unit kerja organisasi akan merupakan bagian keberhasilan dari organisasi perusahaan, sebaliknya, kegagalan yang terjadi karena kesalahan individu atau suatu unit organisasi akan mempengaruhi pula nilai keberhasilan secara keseluruhan. Karena itu, semboyan One For All, All For One & Whe Are One yang merupakan semboyan outbound Internasional juga didengung-dengungkan dalam kegiatan outbound kami untuk tetap membangun semangat kebersamaan dan kekompakan bersama.

Apa sih Tujuan Pelatihan Outbound...?

Tujuan utama (specific objectives) kegiatan pelatihan ini adalah melatih para peserta untuk mampu menyesuaikan diri (adaptasi) dengan perubahan yang ada dengan membentuk sikap professionalisme para peserta yang didasarkan pada perubahan dan perkembangan karakter, komitmen serta kinerja yang diharapkan akan semakin lebih baik. Sikap dan perilaku professionalisme seperti ini meliputi :

Terbentuknya suatu komitmen (commitment) yang utuh dari setiap peserta melalui 4C, yaitu :
peningkatan kompetensi (competency),
pembentukan kosepsi (conception)pemikiran yang komprehensif,
terjadinya hubungan (connection) yang semakin erat diantara para bawahan dan atasan, serta
munculnya keyakinan akan kepercayaan diri (confidence) akan kemampuan masing-masing pesera yang akan berpengaruh dalam membangun rasa memiliki (the owners) dan bukan sekedar menjadi karyawan. Perubahan ini akan terlihat dari bertumbuh kembangnya rasa tanggung-jawab dalam melakukan tugas di unit kerjanya masing-masing.
Pola perilaku yang berkarakter dalam melakukan tugas-tugas kehidupan, berdisiplin, bertanggung jawab, berorientasi ke masa depan, mengutamakan tugas pengabdian, memiliki sikap, etika dan etos kerja yang tinggi.
Meningkatkan semangat kerja dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab masing-masing, serta meningkatkan keberanian peserta dalam mengambil setiap resiko (risk taking) dari setiap tantangan yang dihadapi.
Team building yang solid yang didasarkan pada saling pengertian, kerja sama, koordinasi, menghargai perbedaan, sikap mengutamakan tugas daripada kepentingan pribadi. Dan meyakini bahwa keberhasilan merupakan buah dari kerjasama dan kebersamaan.
Peningkatan kematangan Emotional Question (EQ) melalui program Olah Rasa yang menjadi porsi perhatian outbound bahkan perhatiannya kepada pengembangan Spiritual Quotion (SQ) akan sangat membantu peserta dalam meningkatkan kematangan kemampuan menghadapi berbagai tantangan dan hambatan dalam setiap penyelesaian tugas-tugas yang dihadapi